Al-Azhar, Masjid Pendiri Universitas Tertua di Dunia

(Dimuat di Republika, Ahad, 26 Des 2010)
Oleh Deden Mauli Darajat*

Mesir merupakan negara yang banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka di dunia. Negara di daratan utara Afrika itu dikenal dengan “Negeri Kinanah” yang berarti ‘anak panah’ yang siap disebar di penjuru dunia. Anak panah yang berarti para ulama itu dilahirkan dari salah satu universitas tertua di dunia, yaitu Universitas Al-Azhar.

Beberapa waktu lalu, saat berkunjung ke Kairo, Mesir, saya menyempatkan untuk berkunjung ke salah satu masjid tertua di negeri para nabi itu. Masjid Al-Azhar berada di pusat Kota Kairo yang berdekatan dengan pasar yang sangat asri. Angin sepoi berembus saat saya tiba di ruangan terbuka masjid itu. Meski musim panas, di masjid itu terasa dingin karena lantai masjid berbahan marmer.

Setelah berkunjung ke pasar yang dekat masjid, akhirnya saya dan beberapa rekan melaksanakan shalat Maghrib dan Isya sembari istirahat dan menikmati Masjid Al-Azhar pada malam hari. Lampu penerang dari menara menambah indahnya masjid itu pada malam hari. Pantulan cahaya di atas lantai marmer itu menambah kesyahduan dalam beribadah.

Beberapa orang yang selesai melaksanakan shalat Maghrib dan menunggu Isya, tampak asyik merebahkan diri di atas lantai masjid itu. Begitu juga sebagian lainnya membaca ayat suci Alquran. Di antara jamaah itu, terdapat mahasiswa asal Indonesia yang khusyuk membaca Alquran. Saat azan Isya berkumandang, sejumlah orang masuk ke dalam masjid dan ikut shalat berjamaah.

Masjid Al-Azhar dibangun pada 24 Jumadil Awal 359H/970 M. Masjid itu merupakan gabungan dari semua gaya dan pengaruh yang telah melewati Mesir, dengan sebagian besarnya telah direnovasi oleh Abdarrahman Khesheda. Masjid itu memiliki lima menara yang di dalamnya terdapat balkon kecil dan kolom berukir.

Masjid pendiri Universitas Al-Azhar itu memiliki enam pintu masuk, dengan pintu masuk utama menjadi Bab el-Muzayini (gerbang tukang cukur) pada abad ke-18, di mana siswa pernah dicukur di sana. Gerbang ini mengarah ke sebuah halaman kecil dan kemudian ke Madrasah Aqbaughawiya di sebelah kiri, yang dibangun pada 1340 M dan berfungsi sebagai perpustakaan. Di sebelah kanan terdapat Madrasah Taybarsiya yang dibangun pada 1310 M dan memiliki mihrab yang sangat halus.

Dalam perjalanan waktu yang panjang, Al-Azhar yang berdiri kokoh mulai dipadati oleh para penuntut ilmu dari berbagai pelosok dunia. Seiring dengan waktu, Al-Azhar, selain mempertahankan metode klasiknya dalam sistem pengajaran dalam bentuk talaqi, juga mengikuti metode modern berupa pembentukan universitas.

Universitas Al-Azhar merupakan lembaga ilmiah keagamaan terbesar di dunia. Universitas itu diresmikan oleh Khalifah Al-Muiz Li Dinillah-khalifah kedua Dinasti Fatimiah-ditandai dengan shalat Jumat di dalamnya pada 1 Ramadhan 361H/972M.

Al-Azhar adalah universitas tertua kedua di dunia setelah Universitas Al-Qairawain, Fes, Maroko, yang didirikan pada 245 H/859M. Al-Azhar didirikan dengan tujuan untuk menyebarkan agama Islam dan ilmu pengetahuan lainnya. Di bawah kepemimpinan Al-Qadhi Abu Hanifah bin Muhammad Al-Qairawaini, Al-Azhar mengajarkan ilmu keagamaan, bahasa, qiraat, mantiq dan falak.

Kebudayaan Eropa tampaknya berpengaruh, baik pada pengayaan keilmuan yang dikaji maupun sistem pendidikannya. Pada masa Muhammad Ali Al-Kabir, sistem pengajaran di Al-Azhar mulai dibenahi. Mahasiswa bebas memilih pelajaran dan guru sesuai minat. Setelah merasa mampu menguasai pelajaran, setiap mahasiswa akan diuji di hadapan gurunya secara lisan. Jika dinyatakan lulus, diberi ijazah untuk mengajarkan ilmu tersebut.

Pada akhir abad ke-19, Universitas Al-Azhar baru menerapkan sistem modern di kampus negeri Nabi Musa itu. Pada 1961, Al-Azhar mulai membuka fakultas-fakultas umum di samping fakultas keagamaan yang meliputi kedokteran, farmasi, tarbiyah, teknik, administrasi, bahasa dan terjemah, pertanian, dan sains.

Kini, Al-Azhar yang bercirikan wasathiyyah (moderat), memiliki cabang di sebagian besar Provinsi Mesir dan beberapa negara di Afrika yang mencapai 62 fakultas.

*penulis Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki.

 

Iklan

Menengok Tempat Pembakaran Nabi Ibrahim AS

Menengok Tempat Pembakaran Nabi Ibrahim AS

(Dimuat di Republika, Jumat, 26 Nopember 2010)

Oleh Deden Mauli Darajat *

Nabi Ibrahim AS merupakan rasul atau utusan Allah yang diberikan banyak mukjizat. Salah satunya, Ibrahim AS tak mempan dibakar api yang ganas. Bapak monoteisme itu sempat dibakar dalam api yang menyala-nya setelah menghancurkan berhala-berhala yang disembah oleh ayah dan kaumnya.

Namun, Nabi Ibrahim tak takut menghadapi hukuman dari kaumnya itu. Lalu, Allah SWT menyelamatkannya dari panasnya api yang menyala-nyala. “Kami berfirman, ‘hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim’.” (QS Al-Anbiyaa [21]: 69)

Konon, Nabi Ibrahim AS dibakar di wilayah Urfa, Turki. Saat liburan Idul Adha 1431 H, saya bersama beberapa rekan mengunjungi tempat pembakaran ayah dari Nabi Ismail itu. Untuk menuju tempat pembakaran yang berada di bagian selatan Turki itu, kami berangkat dari Ankara menggunakan bus antarkota selama 12 jam perjalanan.

Kami tiba di Urfa pukul 07.00 waktu setempat. Pagi itu, rupanya para peziarah sudah banyak yang berdatangan. Maklum, di Turki sedang musim liburan. Berbeda dengan di Indonesia, liburan Idul Adha di Turki lebih panjang ketimbang liburan Idul Fitri.

Di tempat pembakaran itu, terdapat kolam ikan yang cukup luas. Kolam itu berisi ikan berwarna hitam doveyang seperti ikan gabus. Hanya ada satu jenis ikan dalam kolam itu dengan berbagai ukuran, mulai dari kecil hingga besar.

Masyarakat setempat mengatakan bahwa ikan-ikan yang berada di kawasan pembakaran Nabi Ibrahim itu tidak boleh dimakan. Tidak tahu mengapa ikan itu tidak boleh dimakan. Setelah kami berkeliling, kolam itu rupanya mengalir ke berbagai selokan di sekitar tempat itu. Selokan yang jernih itu dihiasi dengan sejumlah ikan hitam itu.

Sekitar 100 meter dari tempat pembakaran terdapat tempat kelahiran Nabi Ibrahim. Di samping tempat kelahiran itu telah berdiri dua masjid, yaitu Masjid Maulid Halil yang didirikan pada 1808 M dan Masjid Maulid Halil Baru yang didirikan pada 1980 M.

Para pengunjung melantunkan zikir dan doa saat mereka berkunjung ke tempat kelahiran Nabi Ibrahim. Para wisatawan yang mengenakan peci haji dan perempuan-perempuan yang berkerudung hitam menyempatkan untuk shalat di masjid tersebut.

Dari tempat kelahiran itu kami beranjak ke bukit di belakang masjid. Bukit itu adalah tempat Nabi Ibrahim dilempar dari atas bukit ke tempat pembakaran dengan api yang telah menyala. Di bukit itu terdapat dua tiang besar dan bekas bangunan tua yang sudah runtuh, tetapi dirawat dan dijadikan museum oleh pemerintah setempat.

Untuk memasuki museum itu, para pengunjung harus membayar sebesar 3 lira Turki atau sekitar Rp 18 ribu (1 lira sama dengan Rp 6.000). Nabi Ibrahim adalah putra Aazar (Tarih) bin Tahur bin Saruj bin Rau’ bin Falij bin Aaabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh AS.

Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama “Faddam A’ram” dalam kerajaan “Babylon” yang pada waktu itu diperintah oleh seorang raja bernama Namrud bin Kan’aan.

Pada masa itu, Babylon termasuk kerajaan yang makmur dan rakyat hidup senang. Akan tetapi, kebutuhan rohani mereka masih berada di tingkat Jahiliyah. Mereka menyembah patung-patung yang mereka pahat sendiri dari batu-batu atau terbuat dari lumpur dan tanah.

Raja Namrud bin Kan’aan menjalankan tampuk pemerintahnya dengan tangan besi dan kekuasaan mutlak. Di tengah-tengah masyarakat yang sedemikian buruknya, lahir dan dibesarkanlah Nabi Ibrahim dari seorang ayah yang bekerja sebagai pemahat dan pedagang patung.

Mulai beranjak dewasa, Ibrahim sudah mulai berdakwah kepada masyarakatnya untuk meninggalkan kebiasaan menyembah berhala. Yang pertama, ia mengajak ayahnya ke jalan yang diridai Allah. Namun, ayahnya murka dan mengusir Ibrahim. Meski demikian, Ibrahim tak pernah berhenti untuk berdakwah di kalangan kaum musyrik.

Sudah menjadi tradisi dan kebiasaan penduduk kerajaan Babylon bahwa setiap tahun mereka keluar kota beramai-ramai pada suatu hari raya yang mereka anggap sebagai keramat. Berhari-hari mereka berada di luar kota. Nabi Ibrahim pun diajak, teatpi ia berpura-pura sakit dan diizinkanlah untuk tinggal di rumah.

Saat kota itu kosong, Nabi Ibrahim menghancurkan sejumlah patung dengan menggunakan kapak. Cuma satu patung yang besar yang ia tidak hancurkan. Dan, pada patung besar itulah kapak Ibrahim diletakkan. Alangkah kaget dan murkanya masyarakat saat datang ke kotanya saat melihat patung sesembahannya telah hancur. Mereka sadar yang menghancurkan itu adalah Ibrahim.

Akhirnya, Nabi Ibrahim diadili di pengadilan yang dihadiri semua masyarakat setempat. Di sinilah Ibrahim berdakwah secara terang-terangan. Nabi Ibrahim pun dihukum dan dibakar hidup-hidup sebagai ganjaran atas perbuatannya menghina dan menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Masyarakat sekitar bergotong royong mengumpulkan kayu bakar.

Kayu lalu dibakar dan terbentuklah gunung berapi yang dahsyat. Kemudian dalam keadaan terbelenggu, Nabi Ibrahim dilempar dari atas sebuah gedung di atas bukit yang tinggi ke dalam tumpukan kayu yang menyala. Ajaibnya, usai api itu berhenti menyala, keluarlah Nabi Ibrahim dari pembakaran itu dengan tidak terluka sedikit pun.

*penulis: mahasiswa pascasarjana universitas Ankara, Turki

 

Kemegahan Istana Topkapi, Bukti Sejarah Penaklukan Konstantinopel

Oleh: Deden Mauli Darajat
(Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki)

Tiba-tiba Dekan saya mengirim pesan pendek di jejaring social beberapa waktu lalu. Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Arief Subhan, itu mengatakan dalam pesannya bahwa salah satu rekan dari UIN Jakarta, yaitu Dr. Jajat Burhanudin Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta akan berangkat ke Istanbul, Turki, untuk mengikuti seminar internasional yang membahas tentang dunia keislaman.

Dengan persiapan yang seadanya saya langsung berangkat ke Istanbul. Yang diutus dari Indonesia ada dua orang yaitu Dr. Jajat Burhanuddin dan Dr Abdul Mukti, Direktur Eksekutif Centre for Dialogue and Cooperation among Civilitations (CDCC). Agenda di akhir acara pertemuan tokoh muslim di Istanbul adalah mengunjungi istana Topkapi, yaitu istana kesultanan Turki Usmani.

Istana Topkapi yang berdiri sejak lima ratusan tahun lalu masih kokoh berdiri di pusat kota Istanbul, Turki. Istana para sultan pada kesultanan Turki Usmani itu berada di titik strategis dengan dikelilingi tiga perairan yaitu, Selat Bosphorus, Tanjung Tanduk Emas (Golden Horn), dan Laut Marmara. Lokasi istana tersebut letaknya tidak jauh dari Masjid Sultan Ahmet atau yang biasa disebut Masjid Biru dan Musium Hagia Sofia atau Aya Sofia.

Adalah sultan Muhammad II atau sultan Muhammad Alfatih yang membangun Istana seluas 700 meter persegi pada tahun 1453 Masehi. Istana yang dikelilingi tembok pertahanan sepanjang 5 kilometer itu ditempati oleh 24 sultan yang memimpin kesultanan Turki Usmani.

Istana Topkapi merupakan tempat kediaman sultan-sultan Turki selama tiga abad hingga 1839 M. Setelah Sultan Mahmud II meninggal, penguasa yang menggantikannya lebih memilih tinggal dalam beberapa istana gaya Eropa, seperti Istana Dolmabahce dan Ciragan yang dibangun di tepi Sungai Bosphorus.

Ketika memasuki istana Topkapi, kami para pengunjung disuguhi taman yang luas dan indah. Taman itu juga dipenuhi oleh pepohonan yang sudah berumur ratusan tahun dan rimbun. Beberapa bangunan yang berada di dalam komplek istana Topkapi dihiasi dengan taman-taman yang indah menawan dan air mancur. Pintu dan jendela bangunan-bangunan di lingkungan istana itu menghadap ke halaman yang merupakan taman istana untuk menciptakan suasana yang terbuka dan menyediakan udara dingin selama musim panas.

Di kawasan istana tersebut terdapat asrama, taman, perpustakaan, sekolah, masjid dan pengadilan. Istana itu juga digunakan bukan hanya untuk tempat tinggal, namun juga digunakan untuk kantor administrasi dan kantor penerima tamu agung dari berbagai kerajaan. Istana itu juga dilengkapi dengan gedung yang diperuntukan untuk keluarga sultan. Para arsitek yang merancang bangunan itu harus memastikan bahwa di dalam istana, sultan dan keluarganya dapat menikmati privasi dan kebijaksanaan.

Istana ini sempat masuk dalam situs cagar budaya UNESCO PBB pada tahun 1985. Istana yang memiliki ribuan kamar dan ruang ini kini di bawah pengelolaan Departemen Budaya dan Pariwisata pemerintah Republika Turki dan dijaga oleh tentara militer Turki.

Saat ini, istana Topkapi dijadikan musium dan untuk memasukinya setiap pengunjung dikenakan biaya sebesar 20 Turki Lira (TL) atau setara dengan Rp. 140 ribu dengan kurs 1 TL sama dengan Rp. 7 ribu.

Peninggalan Sejarah Islam

Di dalam komplek istana Topkapi para pengunjung dapat melihat barang-barang peninggalan sejarah, khususnya sejarah Islam. Para pengunjung seperti dibawa ke zaman Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Sebab, sepanjang dan selama para pengunjung melihat barang-barang bersejarah itu mereka disuguhkan dengan lantunan tilawah Alquran. Konon, dulu lantunan ayat suci Alquran itu dilantunkan tanpa henti selama 24 jam nonstop dan terus menerus lebih dari 407 tahun sejak tahun 1517 hingga 1924.

Di istana tersebut, kita dapat melihat benda-benda yang terkait Rasulullah SAW yang juga dihiasi dengan kalighrafi yang sangat cantik. Juga ada cetakan tapak kakinya di batu yang patah dan disambung kawat. Ada pula dua pedang dan panah milik nabi akhir zaman tersebut. Terdapat pula wadah yang berisi jenggot Rasulullah. Selain itu, pedang para sahabat juga dipajang di museum tersebut, di antaranya pedang Abu Bakar Ashshiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid, dan Zubair bin Awwam.

Selain benda-benda itu, di istana tersebut juga terdapat pedang, mantel, gigi (Nabi Muhammad SAW yang tanggal pada Perang Uhud), bakiak, bendera, cambuk, segenggam janggut, sajadah, tongkat, busur panah, sabuk, stempel dan berbagai benda lainnya. Masih di lingkungan Istana, juga ada peninggalan berharga, benda-benda yang pernah dipakai Nabi Muhammad SAW. Berbagai peninggalan itu ditempatkan di dalam suatu ruang khusus yang terpisah dari Istana Topkapi. Ruangan itu bernama Paviliun Relikui Suci.

Hebatnya, di istana tersebut juga terdapat cetakan telapak kaki kanan Nabi Muhammad SAW. Telapak kaki kanan itu tercetak saat peristiwa Mi’raj. Sedangkan telapak kaki kirinya kini tersimpan di Masjidil Aqsa, Jerusalem. Terdapat pula beberapa surat buatan Nabi Muhammad SAW yang ditujukan kepada Muqawqis (pemimpin Kaum Kopts) dan Musaylimah Alkadzdzab (si Pembohong). Surat untuk Muqawqis ditulis di daun kurma dan ditemukan di Mesir pada tahun 1850.

Peninggalan bersejarah lainnya adalah manuskrip Alqur’an pertama yang ditulis di atas lembaran kulit binatang. Itu terjadi sebelum Alqur’an disatukan menjadi sebuah kitab utuh. Salah satu yang tersimpan di Topkapi ialah Surat Alqadar. Selain itu, masih banyak peninggalan lainnya dari para tokoh yang berjasa dalam perkembangan Islam.

*(Telah Dimuat di Republika, tanggal tak terdeteksi)

Mengenang Said Nursi

(Dimuat di Republika, Jumat (15/10/2010))
Oleh Deden Mauli Darajat*

Selama hidupnya Badiuzzaman Said Nursi – ulama terkemuka asal Turki mengajarkan ilmunya kepada murid-muridnya, hingga wafat pada 1960. Setengah abad kemudian, para murid dan pengikutnya mengadakan Simposium Internasional IX Badiuzzaman di Istanbul, Turki. Puluhan ribu orang dari seluruh pelosok dunia, termasuk Indonesia datang menghadiri acara tersebut.

Simposium yang mengusung tema ”Ilmu, Iman, dan Akhlak” itu diadakan di sebuah hotel mewah di kawasan Istanbul. Acara itu digelar untuk memperkenalkan pemikiran dan pola dakwah yang dilakukan oleh pemikir Islam asal Turki itu.

Ketua panitia simposium, Prof Faris Kaya, mengatakan, simposium itu dilaksanakan untuk memperkenalkan pemikiran dakwah Said Nursi kepada masyarakat internasional. Sebab, menurut Kaya, pemikiran dan gerakan dakwah Said Nursi sangat relevan untuk diterapkan saat ini dengan tujuan untuk tercapainya kedamaian di dunia ini atau dengan bahasa lainnya adalah rahmatan lil’alamin.

Kaya menambahkan, pihaknya menerima 245 makalah dari ilmuwan berbagai negara di dunia, 210 diantaranya adalah ilmuwan yang baru pertama kali mengirimkan makalahnya. “Dari 245 ilmuwan yang mengirimkan makalahnya hanya 105 ilmuwan yang diterima,” paparnya.

Beberapa negara yang mengikuti acara tersebut di antaranya, Indonesia, Maroko, Australia, Malaysia, Mesir, Filipina, Yaman, Yordania, Libanon, Aljazair, Chad, Sudan, Niger, Jerman, Italia, Bosnia-Herzegovina, Afrika Selatan, Bulgaria, Suriah, Inggris, Amerika Serikat dan Kanada. Dari Indonesia sebanyak tujuh ilmuwan telah mengirimkan makalahnya dan hanya dua yang diterima.

Kedua ilmuwan asal Indonesia yang menjadi pembicara pada simposium tersebut adalah Prof Andi Faisal Bakti dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Dr.Asror Yusuf dari STAIN Kediri, Jawa Timur. Andi Faisal dalam makalahnya, mengatakan, pola dakwah Said Nursi adalah dari perubahan diri sendiri kemudian mengajak lingkungannya untuk berubah ke arah yang lebih baik yang diridhai Allah SWT. ”Memberikan teladan kepada orang-orang adalah pola dakwah yang paling efektif, dan inilah yang dilakukan Said Nursi,” kata Andi.

Simposium Internasional Badiuzzaman pertama kali dilaksanakan pada 1991. Kini, acara itu digelar secara rutin setiap tiga tahun sekali. Pembukaan simposium IX digelar di Stadion Sinan Ardim, Istanbul, dihadiri lebih dari 250 tokoh Muslim dunia dari 40 negara, termasuk beberapa tokoh terkemuka Turki, semisal; Bulent Aricn, mantan ketua parlemen Turki yang kini wakil perdana menteri, serta Husein Celik, anggota parlemen dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP). Husein Celik mengatakan dalam sambutannya, sepanjang hidupnya Said Nursi merupakan tokoh yang menentang rasisme dan diskriminasi.

Said Nursi adalah ulama terkemuka dari Turki. Ia dikenal sebagai salah seorang pemikir Islam yang paling cemerlang di zaman modern. Secara konsisten, Said Nursi memperjuangkan gagasannya yang menjadikan Islam sebagai agama yang dinamis di dunia modern. Said Nursi juga dikenal sebagai seorang teolog bervisi kokoh yang berupaya menyatukan dunia Islam yang telah retak.

Selama hidupnya, Said Nursi telah melahirkan sejumlah karya penting, salah satunya adalah Risale-i Nuratau Risalah Nur, sebuah tafsir Alquran setebal lebih dari enam ribu halaman. Bagi rakyat Turki, ia tak hanya sekadar ulama dan pemikir agung.

Said Nursi juga merupakan pahlawan bagi umat Islam di negara yang dulunya sempat menjadi adidaya dunia lewat Kekhalifahan Turki Usmani. Selain sempat memimpin pasukan untuk melawan invasi Rusia, secara gencar Said Nursi juga melakukan perlawanan atas sistem sekuler yang dibangun Mustafa Kemal Ataturk.

Sang ulama dan pemikir agung ini terlahir pada era kemunduran Dinasti Turki Usmani. Ia adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama Mirza dan ibunya bernama Nuriye atau Nura. Keluarga itu tinggal bersama masyarakat Kurdistan. Said Nursi lahir pada tahun 1876 M./1293 H., di sebuah kampung bernama Nurs yang terletak di bagian tenggara Turki. Kata Nursi di akhir namanya dinisbahkan kepada kampung kelahirannya tersebut. Ia meninggal pada tanggal 23 Maret 1960.

penulis: Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki, ed; heri ruslan

Juga dapat diakses di: http://koran.republika.co.id/koran/52/121089/Mengenang_Said_Nursi

 

Menengok Masjid Pendiri Mazhab Syafii

Oleh: Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki)

”Menjelajahlah, niscaya kamu akan mendapatkan pengganti dari yang kamu cintai. Dan bersungguh-sungguhlah, karena hanya dengan kesungguhan semuanya akan tercapai dan dapat menikmatinya…” (Imam Syafii)

Mesir tersohor dengan para ulamanya dalam pelbagai ranah kajian keilmuannya. Di antara ulama yang terkenal adalah Imam Syafii. Pendiri mazhab Syafii ini terkenal di kalangan sarjana keislaman dan para santri di pelosok Nusantara. Sebab para santri mempelajari keilmuannya. Bahkan, di beberapa pesantren modern di Indonesia, kata mutiara dari Imam Syafii begitu melekat di benak para santri.

Saat berkunjung ke Mesir untuk menghadiri Simposium Internasional Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4), saya sempat berkunjung ke Masjid Imam Syafii. Masjid yang berada di ibu kota Mesir, Kairo itu, berdekatan dengan makam-makam para ulama terkemuka.

Karena waktu itu musim panas mencapai 40 derajat selsius, saya berangkat ke masjid itu sore hari. Di halaman masjid, saya melihat banyak orang yang berjualan makanan dan barang-barang dagangan lainnya. Rupanya, beberapa hari itu ada acara besar keagamaan yang akan diadakan di masjid tersebut.

Saya pun menyempatkan shalat Ashar berjamaah di masjid yang kaya akan sejarah itu. Makam Imam Syafii terletak di sebelah kanan bagian dalam masjid. Makam sang imam terjaga rapi. Banyak di antara para peziarah berdoa dan melafalkan zikir di sekitar makam.

Saya juga melihat beberapa maha siswa Indonesia yang sedang membaca Alquran di dekat makam Imam Syafii. Di samping makam itu terdapat catatan riwayat hidup Imam Syafii yang ditulis dalam bahasa Arab yang dibingkai besar dan dipajang di dinding masjid.

Para peziarah itu berdatangan dari berbagai daerah di Mesir dan juga mancanegara, baik laki-laki maupun perempuan. Ada yang sekadar berziarah, ada juga yang dibarengi dengan shalat berjamaah, bahkan ada juga yang sembari membaca Alquran dan mendoakan ulama Fikih terkemuka itu.

Selain itu, ada rombongan jamaah pengajian yang sengaja membawa kitab untuk mengaji bersama di dalam masjid. Selain itu, juga terdapat jamaah yang beriktikaf di dalam masjid tersebut. Di bagian luar masjid itu terdapat tempat berwudlu yang dilengkapi dengan air siap minum. Yang unik dari masjid ini adalah lambang yang terletak di atas kubah masjid.

Biasanya masjid di Indonesia lambangnya adalah bulan dan bintang, sementara di Mesir lambangnya kebanyakan hanya bulan sabit yang melingkar, sementara lambang di masjid Imam Syafii ini berbentuk perahu yang dilengkapi atasnya dengan bulan sabit. Saya tak tahu apa arti lambang tersebut, yang pasti lambang inilah yang membedakan masjid Imam Syafii dan masjid lainnya di Mesir.

Sejatinya nama Imam Syafii adalah Abu Abdullah Muhammad bin Idris Alsyafii atau Muhammad bin Idris asy Syafii. Ia lahir di Gaza, Palestina tahun 150 Hijriyah atau 767 M dan meninggal di Fusthat, Mesir tahun 204 H / 819 M. Imam Syafii adalah seorang mufti besar Islam dan juga pendiri Mazhab Syafii. Imam Syafii juga tergolong kerabat dari Rasulullah SAW, ia termasuk dalam Bani Muthalib, yaitu keturunan dari al-Muthalib, saudara dari Hasyim, yang merupakan kakek Nabi Muhammad SAW.

Setelah ayah Imam Syafii meninggal dua tahun setelah kelahirannya, sang ibu membawanya ke Makkah, tanah air nenek moyang. Ia tumbuh besar di sana dalam keadaan yatim. Sejak kecil Syafii cepat menghafal syair, pandai bahasa Arab dan sastra.

Sampai-sampai Al-Ashma’i berkata, “Saya mentashih syair-syair bani Hudzail dari seorang pemuda dari Quraisy yang disebut Muhammad bin Idris.” Imam Syafii adalah imam bahasa Arab. Saat usia 20 tahun, Imam Syafii hijrah ke Madinah untuk berguru kepada ulama besar saat itu, yakni Imam Malik.

Dua tahun kemudian, ia juga pergi ke Irak, untuk berguru pada muridmurid Imam Hanafi di sana. Imam Syafii merupakan orang yang gemar belajar dari berbagai guru di kawasan Timur Tengah. Ia pun banyak menulis kitab. Salah satu karangannya berjudul “Ar Risalah”, buku pertama tentang usul fikih dan kitab “Al Umm” yang berisi mazhab fikihnya yang baru. Imam Syafii adalah seorang mujtahid mutlak, imam fikih, ahli hadis, dan usul. Ia mampu memadukan fikih ahli Irak dan fikih ahli Hijaz.

Imam Ahmad berkata tentang Imam Syafi’i, “Beliau adalah orang yang paling fakih dalam Alquran dan As-Sunnah.” “Tidak seorang pun yang pernah memegang pena dan tinta (ilmu) melainkan Allah memberinya di ‘leher’ Syafii.”

Thasy Kubri menggambarkan Imam Syafii di Miftahus Sa’adah dengan ungkapan seperti ini, “Ia adalah Ulama ahli fikih, usul, hadis, bahasa, nahwu, dan disiplin ilmu lainnya sepakat bahwa Syafii memiliki sifat amanah (dipercaya), ‘adaalah (kredibilitas agama dan moral), zuhud, wara’, takwa, dermawan, tingkah lakunya yang baik, derajatnya yang tinggi.” Imam Syafii adalah sosok ulama terpandang yang cinta akan ilmu pengetahuan.

Ramadhan Terpusat di Taman Pemuda Turki

(Dimuat di Republika, Senin, 22 Agustus 2010)

Oleh Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki)

Tausiah Ramadhan disajikan melalui layar raksasa yang juga disiarkan langsung oleh Beyaz TV.

Ibu kota Turki, Ankara, dikenal banyak memiliki taman kota yang indah dan menawan. Tidak sulit mencari taman di Ankara sebab hampir di setiap sudut kota terdapat taman. Taman itu tertata rapi dilengkapi air mancur yang menghiasi. Tak ketinggalan bunga-bunga warna-warni bertebaran di sekitar taman kota. Bahkan, ada juga alat-alat olahraga gymnastic yang bisa digunakan warga sekitar.

Salah satu taman yang sangat ramai selama bulan Ramadhan 1431 H adalah Genclik Park atau Taman Pemuda. Taman yang terletak di daerah Ulus ini, oleh pemerintah Provinsi Ankara, ditetapkan menjadi pusat kegiatan Ramadhan tahun ini.

Genclik Park disulap menjadi arena pameran. Di tengah taman itu, terdapat dua panggung. Panggung pertama untuk tausiah Ramadhan menjelang berbuka dan panggung kedua untuk pementasan musik pada malam hari.

Tausiah Ramadhan tiap sore itu disiarkan live oleh Beyaz TV. Bahkan, di depan pintu masuk Genclik Park, siaran langsung itu bisa dinikmati melalui layar lebar.

Banyak warga sekitar yang datang ke Genclik Park untuk berbuka puasa. Ada juga warga yang membawa sanak keluarganya sambil membawa makanan dan minuman untuk berbuka. Di belakang tenda-tenda pameran, para warga itu menggelar tikar dan menyantap santapan buka puasa.

Bagi yang tidak membawa makanan buka puasa, panitia acara menyediakan tenda besar untuk berbuka puasa gratis. Tenda besar yang dapat menampung lima ratusan orang itu disponsori oleh Gubernur Ankara, Melih Gokcek.

Tahun ini merupakan tahun pertama saya melaksanakan ibadah puasa di Turki sebagai mahasiswa pascasarjana Universitas Ankara. Ramadhan tahun ini, bertepatan dengan musim panas, artinya puasa pada musim panas lebih lama dibanding musim-musim lainnya.

Kali ini, buka puasa di Turki sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Sebelum berbuka puasa, saya menghabiskan waktu mengunjungi stan di arena Genclik Park. Di sana, terdapat puluhan stan penjual aksesori, sepatu, kaus, buku, dan lain-lain. Di sekitar taman itu pun, disediakan masjid untuk shalat.

Yang menarik, di samping Genclik Park, terdapat juga Taman Luna Park. Taman ini merupakan taman wisata permainan, seperti Ancol atau Dunia Fantasi di Jakarta.

Selain perayaan Ramadhan di Genclik Park, ada pusat perbelanjaan Mal Panora. Pihak pengelola mal itu memeriahkan bulan puasa dengan menampilkan tarian Sema setiap hari Jumat dan Sabtu. Tarian Sema yang merupakan tarian sufi Maulana Jalaluddin Rumi ini ditampilkan satu jam menjelang buka puasa selama bulan Ramadhan.

Sejatinya, Maulana Jalaluddin Rumi bernama lengkap Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri atau sering disebut dengan Rumi. Ia adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada 6 Rabiul Awal 604 Hijriyah atau 30 September 1207 Masehi. Untuk mengenangnya, Pemerintah Turki membangun pusat kebudayaan Maulana Jalaluddin Rumi di Konya, Turki.

Selain menjalani Ramadhan, tahun ini juga kali pertama saya merayakan kemerdekaan ke-65 Republik Indonesia di Turki. Perayaan kemerdekaan RI di Wisma Kedutaan Besar Republika Indonesia (KBRI) Ankara, beberapa hari lalu, dihadiri masyarakat dan mahasiswa Indonesia di Turki.

Biasanya, setelah upacara, pihak KBRI menyediakan makanan khas Indonesia yang jarang kami temui di Turki. Namun, hari itu kami menundanya hingga berbuka puasa.

Panitia dari KBRI dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Turki membuat acara kerohanian sebelum berbuka puasa. Sehabis Zuhur, ruang serbaguna disulap menjadi masjid. Para pelajar pun membaca Alquran sambil ngabuburit.

Menjalani Ramadhan di negeri orang kerap menimbulkan kerinduan dengan rumah dan orang tua. Namun, kebersamaan dengan orang Indonesia lainnya di Turki cukup bisa menghibur hati dan kerinduan saya kepada keluarga di Indonesia.

Kebahagiaan yang tak terkira bagi kami, warga Indonesia, karena dapat saling bersilaturahim. Terlebih lagi, kami dapat menikmati hidangan buka puasa dengan makanan khas Indonesia yang jarang kami temui. ed: andi nur aminah

Dapat juga diakses di: http://koran.republika.co.id/koran/99/117786/Ramadhan_Terpusat_di_Taman_Pemuda_Turki

Israel Ubah Politik Turki

(Dimuat di Majalah Gontor, Edisi Juli 2010)

Oleh Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki)

Senin pagi di akhir Mei 2010, ratusan aktivis kemanusiaan Freedom Flotilla yang meng- gunakan kapal Mavi Marmara yang berangkat dari Turki menuju Gaza, Palestina diserang tentara khusus Israel di perairan internasional. Akibatnya aktivis dan sejumlah jurnalis yang ikut dalam pelayaran itu menjadi korban kebrutalan tentara Zionis. Sadisnya lagi, penyerangan itu dilakukan dari udara dan laut oleh pasukan katak tentara khusus Israel.

Awak kapal yang sejatinya ingin membantu orang-orang di Gaza yang tak bersenjata itu ditembak tanpa ampun. Tak ada perlawanan dari para aktivis itu. Bahkan bendera putih telah berkibar sebelum sampai di Gaza. Namun, pasukan khusus tentara Israel tetap menghabisi mereka dengan dalih mereka diserang dari kapal Mavi Marmara. Awalnya hanya granat kejut, bom asap, dan peluru karet. Namun, kemudian peluru betulan keluar juga dari senapan mereka. Puluhan orang terluka, dan sejumlah lainnya terbunuh dalam tragedi itu. Setelah penyerangan yang membabi buta itu geladak kapal bersimpah darah.

Di antara aktivis yang berada di kapal Mavi Marmara itu terdapat 12 warga negara Indonesia (WNI). Beruntung, ke-12 WNI itu selamat dari kematian. Salah satu rombongan dari Indonesia adalah jurnalis TV-One, Muhammad Yasin. Saya mengenal Yasin sejak bertugas bersama di wilayah Jakarta Timur. Saat mengetahui kabar bahwa Yasin termasuk dalam rombongan kemanusiaan itu saya mengkhawatirkan keadaannya dan keadaan WNI lainnya. Alhamdulillah, semua WNI selamat dari kebrutalan Israel itu.

Sehari sebelum pulang ke Indonesia, saya sempat melakukan pembicaraan melalui fasilitas jejaring sosial. Yasin mengatakan dirinya baik-baik saja, meski beberapa hari saat penyerangan itu, ia dan sejumlah relawan kema- nusiaan lainnya tidak bisa tidur. “Alhamdulillah saya bertambah baik,” katanya. Kedatangan Yasin pun disambut meriah di Indonesia. Rekan-rekan jurnalis lainnya yang berkumpul di Jakarta Timur menyambutnya dengan hangat.

Tragedi Mavi Marmara yang mene- waskan sembilan warga negara Turki telah mengubah peta hubungan baik antara Turki dan Israel. Turki menarik duta besarnya dan menuntut Israel minta maaf dan segera mengakhiri blokade atas Gaza. Turki marah besar atas kebrutalan tentara Israel yang menembaki para relawan kemanusiaan yang akan masuk Gaza. Turki merasa dikhianati Israel. Karenanya Turki menurunkan status hubungan dengan Israel, khususnya di bidang ekonomi dan pertahanan.Wakil Perdana Menteri Tukri Bulent Arinc mengungkapkan, semua kesepakatan dengan Israel tengah dievaluasi. ”Kami serius dalam masalah ini. Kerjasama baru tidak akan dimulai dan hubungan dengan Israel dikurangi,”katanya.

Akibat dari serangan brutal itu, ber- bagai aksi demontrasi anti Israel pun terjadi di berbagai daerah di belahan dunia, seperti halnya di Istambul dan Ankara, Turki. Di Ankara, puluhan mahasiswa turun ke jalan melakukan aksi mengutuk kekerasan dan ke- brutalan Israel. Para pendemo sore itu bergerak dari Dikimevi menuju Kizilay, pusat keramaian Ankara.
Meski hanya puluhan orang, namun teriakan ganyang Israel dan teriakan takbir dan tahlil yang dikumandangkan menarik perhatian banyak orang. Puluhan orang melihat aksi itu dari jejeran bangunan apartemen di se- panjang jalan menuju Kizilay.

Masih di pekan yang sama, ratusan mahasiswa dan warga Turki turun ke jalan yang berujung di depan kedutaan Israel di Ankara. Para demonstran itu membawa bendera Palestina dan Turki. Mereka mengecam kekerasan yang dilakukan oleh tentara Israel di perairan internasional itu.

Selain demontrasi yang dilakukan banyak pihak di berbagai daerah dan belahan dunia, banyak juga pihak yang mengecam kebrutalan Israel. Di antaranya disuarakan oleh Aliansi Per- himpunan Pelajar Indonesia di Luar Negeri atau PPI Dunia. Ketua Dewan Formatur PPI Dunia, M Fadlillah Fauzulhaq, menyatakan pihaknya mengecam pemblokadean Israel dan Mesir terhadap jalur Gaza sejak 2007 yang telah melanggar Hak-Hak Dasar Umum Kemanusiaan (Universal Declaration of Human Rights) yang tertera dalam United Nations Charter.

Selain itu, kata Fadlillah, pihaknya juga mengecam penyerangan Israel terhadap kapal Mavi Marmara yang telah menimbulkan korban luka dan korban jiwa pada 31 Mei 2010. Pe- nyerangan di laut bebas ini merupa- kan pelanggaran terhadap Pasal 87, 88, 89 dan 90 UNCLOS (United Nations Conventions on the Law of The Sea).

PPI Dunia, lanjut Fadlillah, me- nuntut Dewan Keamanan PBB (DK PBB) untuk meminta pertanggung- jawaban Israel dalam kasus tersebut dan melakukan penyelidikan dan pengadilan terhadap semua pihak yang terkait berdasarkan hukum in- ternasional. Selain itu, tambahnya, pihaknya juga meminta kepada semua negara di dunia untuk menekan Israel dalam memenuhi resolusi PBB (Resolusi S-9/1 tentang Perang Gaza) demi terbentuknya perdamaian di Timur Tengah dan Dunia.

Tak Pernah ke Gaza

“Al-Quds milik kami,”dan“Gaza di hati kami.” Dua kalimat itu tertera pada sorban orang-orang Palestina yang sedang mempresentasikan tentang negaranya di gedung pusat bahasa Uni- versitas Ankara, yang dalam bahasa aslinya “Al-Quds lana, wa Gazzah fi qulubina”. Tak seperti biasanya, saat menyaksikan pemaparan tentang Palestina, para penonton yang biasanya berisik, kali ini tidak ada suara sedikit pun. Mereka terdiam. Sebagian air mata mereka berlinang, ada juga yang menangis tersedu sedan.

Betapa tidak, pasalnya para penyaji itu menampilkan video tentang perang, tentang perjuangan orang-orang Pales- tina yang tak pernah menyerah meski dijajah Israel, tentang anak-anak yang tak berdosa yang menjadi korban kebiadaban Israel. Dalam video itu tergambar sejumlah anak yang terkena senjata pasukan Israel. Ada yang matanya hilang dan darah mengucur dari matanya seperti air mata yang mengalir saat menangis, dan ada pula anak yang diimpus di salah satu tempat penanganan darurat.

Di sesi lainnya, seorang warga Pa- lestina, diseret oleh tiga tentara Israel yang dilengkapi dengan senjata. Tidak sedikit perempuan-perempuan tua me- nangis melihat kekejaman tentara Israel seraya memeluk anaknya yang sudah tak bernyawa. Di tengah pertunjukan itu, seorang kawan lelaki asal Palestina yang sedang memaparkan negaranya, Samer Mhanna, meneteskan air mata. Dia tidak tega melihat negaranya diporakporandakan Israel.

Biasanya, pemaparan suatu negara dilengkapi dengan pengenalan budaya, bahasa, makanan, maupun ragam kesenian dari negara itu. Mahasiswa asal Indonesia,misalnya, menampilkan budaya, bahasa yang ratusan jenisnya, tarian Saman dari Aceh, serta beberapa musik pop Indonesia. Namun, mahasiswa asal Palesti- na tidak menampilkan budaya, makanan, maupun tarian, apalagi nyanyian musik pop. Mereka hanya memperkenalkan sejarah. “Kami tak tahu bagaimana harus menampilkan kebudayaan atau apapun yang negara lain tampilkan, kami hanya menyaji- kan keadaan yang sesungguhnya sedang terjadi di negeri kami,” kata Muayad Qasim, salah seorang dokter asal Palestina yang melanjutkan studinya dengan beasiswa pemerintah Turki di Ankara.

Dari empat video yang ditampilkan, salah satunya adalah video pidato tentang pendirian negara Palestina yang dikumandangkan oleh Yasser Arafat. Terpancar dari mata kelima orang Palestina yeng memaparkan negaranya sebuah pengharapan akan terulangnya kedaulatan yang utuh negara Palestina. Mereka masih mendambakan negara yang utuh yang tak ada gejolak apapun di negeri para nabi itu.

Muayad mengatakan, kehidupan yang digambarkan dalam video itu merupakan gambaran kehidupan bangsa Palestina sehari-hari. Sewaktu dia mengenyam sekolah menengah di wilayah Nablus, Palestina, cerita Muayad, tank tentara Israel mengelilingi sekolahnya dan tank itu berdiam diri di depan sekolahnya. Ia dan teman-teman sekelasnya sudah biasa melihat pemandangan itu. Aktivitas belajar mengajar tetap berjalan, meski dentuman keras keluar dari tank itu.

“Kehidupan di Palestina tetap berjalan seperti biasa meski bangun- an-bangunan, baik sekolah maupun perkantoran runtuh,” kata Muayad. Saat ditanya bagaimana ia bekerja sebagai dokter gigi di Palestina, Muayad menyatakan, dirinya bekerja seperti biasa, masuk pagi dan pulang kerja di sore hari. Baginya tak ada bedanya bekerja di manapun, yang membedakan hanyalah situasi. Keadaan seperti itu masih berjalan hingga saat ini.

Ketika dimintai komentar tentang tragedi Mavi Marmara, Samer menga- takan, ia tak bisa berkomentar apa- apa. Dia hanya bisa berdoa agar Allah SWT memberikan kekuatan kepada orang-orang Palestina dan orang- orang yang memberi bantuan untuk bangsanya. Di akhir perbincangan saya dengan kedua rekan asal Palestina itu, mereka mengatakan, “Selama hidup di Palestina, kami tak pernah menginjak tanah Gazza, meski kami mencintainya,” tandas Muayad yang diamini Samer.