Menengok Masjid Pendiri Mazhab Syafii

Oleh: Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki)

”Menjelajahlah, niscaya kamu akan mendapatkan pengganti dari yang kamu cintai. Dan bersungguh-sungguhlah, karena hanya dengan kesungguhan semuanya akan tercapai dan dapat menikmatinya…” (Imam Syafii)

Mesir tersohor dengan para ulamanya dalam pelbagai ranah kajian keilmuannya. Di antara ulama yang terkenal adalah Imam Syafii. Pendiri mazhab Syafii ini terkenal di kalangan sarjana keislaman dan para santri di pelosok Nusantara. Sebab para santri mempelajari keilmuannya. Bahkan, di beberapa pesantren modern di Indonesia, kata mutiara dari Imam Syafii begitu melekat di benak para santri.

Saat berkunjung ke Mesir untuk menghadiri Simposium Internasional Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4), saya sempat berkunjung ke Masjid Imam Syafii. Masjid yang berada di ibu kota Mesir, Kairo itu, berdekatan dengan makam-makam para ulama terkemuka.

Karena waktu itu musim panas mencapai 40 derajat selsius, saya berangkat ke masjid itu sore hari. Di halaman masjid, saya melihat banyak orang yang berjualan makanan dan barang-barang dagangan lainnya. Rupanya, beberapa hari itu ada acara besar keagamaan yang akan diadakan di masjid tersebut.

Saya pun menyempatkan shalat Ashar berjamaah di masjid yang kaya akan sejarah itu. Makam Imam Syafii terletak di sebelah kanan bagian dalam masjid. Makam sang imam terjaga rapi. Banyak di antara para peziarah berdoa dan melafalkan zikir di sekitar makam.

Saya juga melihat beberapa maha siswa Indonesia yang sedang membaca Alquran di dekat makam Imam Syafii. Di samping makam itu terdapat catatan riwayat hidup Imam Syafii yang ditulis dalam bahasa Arab yang dibingkai besar dan dipajang di dinding masjid.

Para peziarah itu berdatangan dari berbagai daerah di Mesir dan juga mancanegara, baik laki-laki maupun perempuan. Ada yang sekadar berziarah, ada juga yang dibarengi dengan shalat berjamaah, bahkan ada juga yang sembari membaca Alquran dan mendoakan ulama Fikih terkemuka itu.

Selain itu, ada rombongan jamaah pengajian yang sengaja membawa kitab untuk mengaji bersama di dalam masjid. Selain itu, juga terdapat jamaah yang beriktikaf di dalam masjid tersebut. Di bagian luar masjid itu terdapat tempat berwudlu yang dilengkapi dengan air siap minum. Yang unik dari masjid ini adalah lambang yang terletak di atas kubah masjid.

Biasanya masjid di Indonesia lambangnya adalah bulan dan bintang, sementara di Mesir lambangnya kebanyakan hanya bulan sabit yang melingkar, sementara lambang di masjid Imam Syafii ini berbentuk perahu yang dilengkapi atasnya dengan bulan sabit. Saya tak tahu apa arti lambang tersebut, yang pasti lambang inilah yang membedakan masjid Imam Syafii dan masjid lainnya di Mesir.

Sejatinya nama Imam Syafii adalah Abu Abdullah Muhammad bin Idris Alsyafii atau Muhammad bin Idris asy Syafii. Ia lahir di Gaza, Palestina tahun 150 Hijriyah atau 767 M dan meninggal di Fusthat, Mesir tahun 204 H / 819 M. Imam Syafii adalah seorang mufti besar Islam dan juga pendiri Mazhab Syafii. Imam Syafii juga tergolong kerabat dari Rasulullah SAW, ia termasuk dalam Bani Muthalib, yaitu keturunan dari al-Muthalib, saudara dari Hasyim, yang merupakan kakek Nabi Muhammad SAW.

Setelah ayah Imam Syafii meninggal dua tahun setelah kelahirannya, sang ibu membawanya ke Makkah, tanah air nenek moyang. Ia tumbuh besar di sana dalam keadaan yatim. Sejak kecil Syafii cepat menghafal syair, pandai bahasa Arab dan sastra.

Sampai-sampai Al-Ashma’i berkata, “Saya mentashih syair-syair bani Hudzail dari seorang pemuda dari Quraisy yang disebut Muhammad bin Idris.” Imam Syafii adalah imam bahasa Arab. Saat usia 20 tahun, Imam Syafii hijrah ke Madinah untuk berguru kepada ulama besar saat itu, yakni Imam Malik.

Dua tahun kemudian, ia juga pergi ke Irak, untuk berguru pada muridmurid Imam Hanafi di sana. Imam Syafii merupakan orang yang gemar belajar dari berbagai guru di kawasan Timur Tengah. Ia pun banyak menulis kitab. Salah satu karangannya berjudul “Ar Risalah”, buku pertama tentang usul fikih dan kitab “Al Umm” yang berisi mazhab fikihnya yang baru. Imam Syafii adalah seorang mujtahid mutlak, imam fikih, ahli hadis, dan usul. Ia mampu memadukan fikih ahli Irak dan fikih ahli Hijaz.

Imam Ahmad berkata tentang Imam Syafi’i, “Beliau adalah orang yang paling fakih dalam Alquran dan As-Sunnah.” “Tidak seorang pun yang pernah memegang pena dan tinta (ilmu) melainkan Allah memberinya di ‘leher’ Syafii.”

Thasy Kubri menggambarkan Imam Syafii di Miftahus Sa’adah dengan ungkapan seperti ini, “Ia adalah Ulama ahli fikih, usul, hadis, bahasa, nahwu, dan disiplin ilmu lainnya sepakat bahwa Syafii memiliki sifat amanah (dipercaya), ‘adaalah (kredibilitas agama dan moral), zuhud, wara’, takwa, dermawan, tingkah lakunya yang baik, derajatnya yang tinggi.” Imam Syafii adalah sosok ulama terpandang yang cinta akan ilmu pengetahuan.

Berlebaran di Negeri Orang

(Dimuat di Detik.com, Jumat 10/9/2010)

Oleh Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Takbir menggema di dalam masjid Hasan Tanik Cankaya Ankara, Turki. Tepat pukul 07.00 Waktu Turki kami melaksanakan shalat Ied di masjid dekat rumah kami itu, Kamis (9/9/2010). Saat kami datang 15 menit sebelum dimulai shalat rupanya jamaah sudah memenuhi ruangan masjid. Sejumlah orang pun sudah menggelar tikar di halaman masjid.

Untungnya masih ada shaf kosong di bagian tengah dan saya pun duduk di sana. Sebisa mungkin saya khusuk mengalunkan takbir yang rasanya sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Berbeda karena di sekeliling saya adalah orang-orang Turki. Rasanya ingin shalat Ied berjamaah bersama keluarga dan sanak saudara di kampung halaman.

Usai shalat kami bersalaman bersama imam masjid yang merupakan imam tetap di masjid itu. Pemerintah Turki sudah menetapkan satu imam dan wakilnya di setiap masjid. Dan imam shalat Ied itu adalah imam kami juga saat shalat tarawih. Selain menjadi imam, ia pun menjadi khatib pada shalat Ied. Juga menjadi imam dan khatib di setiap shalat Jumat.

Imam masjid merupakan petugas yang ditunjuk pemerintah dan digaji setiap bulannya. Hanya sesekali saja imam itu diganti oleh wakilnya. Pemerintah Turki juga sudah menetapkan Idul Fitri jauh-jauh hari sebelumnya, bahkan hingga tahun 2015 mendatang pun sudah ditetapkan kapan dilaksanakan Idul Fitri dan Idul Adha. Tak ada perbedaan pendapat soal lebaran di negeri ini.

Saat keluar masjid, ada beberapa orang yang membagikan manisan di depan pintu masjid. Manisan itu dibagikan kepada jamaah yang sudah melaksanakan shalat Ied. Saya pun mencicipi manisan itu. Di luar masjid teman kami yang juga warga Indonesia sudah menunggu, sebagian besar adalah mahasiswa sebagian lainnya staf KBRI Ankara dan warga Indonesia yang menetap di Turki.

Kami saling bersalaman dan berpelukan satu sam lain. Hangat sekali. Sesekali bersenda gurau. Sebenarnya orang-oang Indonesia yang kami temui usai shalat itu adalah orang-orang yang juga sering kami temui saat buka puasa bersama pada bulan Ramadhan lalu.

Dalam perjalanan menuju rumah, suasana di sekeliling komplek kami sangat sepi. Mungkin mereka sedang bercengkrama dengan keluarganya masing-masing. Kami pun berlima yang menempati rumah tak mau kalah. Bahkan beberapa hari sebelum lebaran kami sudah menyiapkan masakan Indonesia. Ini dilakukan agar kami masih merasakan berlebaran di Indonesia. Memang tak banyak yang kami buat, hanya membuat lontong dan opor ayam. Namun, cukuplah untuk sedikit merasakan.

Ada yang menarik yang disampaikan penceramah sebelum shalat Ied dimulai. Ia mengatakan, kita harus bersyukur masih bisa melaksanakan dan merayakan lebaran Idul Fitri dibanding saudara-saudara muslim lainnya yang tidak bisa merayakannya seperti umat Muslim di Pakistan yang dilanda musibah. Rasanya saya malu saat saya harus sedih karena tidak bisa berlebaran bersama keluarga, karena ternyata masih banyak orang-orang yang belum bisa berlebaran.

Pembaca yang budiman, akhirnya, dari lubuk hati yang terdalam, ijinkan saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 Hijriyah, Allahummaj’alna minal ‘aidin wal faizin, Taqabbalallahu minna waminkum, Kullu ‘am wa antum bi khair. Mohon maaf lahir dan batin.

Ankara, Turki, Kamis 9 September 2010/1 Syawwal 1431 H

Dapat juga diakses di: http://ramadan.detik.com/read/2010/09/10/093654/1438709/631/berlebaran-di-negeri-orang

Ramadhan Terpusat di Taman Pemuda Turki

(Dimuat di Republika, Senin, 22 Agustus 2010)

Oleh Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki)

Tausiah Ramadhan disajikan melalui layar raksasa yang juga disiarkan langsung oleh Beyaz TV.

Ibu kota Turki, Ankara, dikenal banyak memiliki taman kota yang indah dan menawan. Tidak sulit mencari taman di Ankara sebab hampir di setiap sudut kota terdapat taman. Taman itu tertata rapi dilengkapi air mancur yang menghiasi. Tak ketinggalan bunga-bunga warna-warni bertebaran di sekitar taman kota. Bahkan, ada juga alat-alat olahraga gymnastic yang bisa digunakan warga sekitar.

Salah satu taman yang sangat ramai selama bulan Ramadhan 1431 H adalah Genclik Park atau Taman Pemuda. Taman yang terletak di daerah Ulus ini, oleh pemerintah Provinsi Ankara, ditetapkan menjadi pusat kegiatan Ramadhan tahun ini.

Genclik Park disulap menjadi arena pameran. Di tengah taman itu, terdapat dua panggung. Panggung pertama untuk tausiah Ramadhan menjelang berbuka dan panggung kedua untuk pementasan musik pada malam hari.

Tausiah Ramadhan tiap sore itu disiarkan live oleh Beyaz TV. Bahkan, di depan pintu masuk Genclik Park, siaran langsung itu bisa dinikmati melalui layar lebar.

Banyak warga sekitar yang datang ke Genclik Park untuk berbuka puasa. Ada juga warga yang membawa sanak keluarganya sambil membawa makanan dan minuman untuk berbuka. Di belakang tenda-tenda pameran, para warga itu menggelar tikar dan menyantap santapan buka puasa.

Bagi yang tidak membawa makanan buka puasa, panitia acara menyediakan tenda besar untuk berbuka puasa gratis. Tenda besar yang dapat menampung lima ratusan orang itu disponsori oleh Gubernur Ankara, Melih Gokcek.

Tahun ini merupakan tahun pertama saya melaksanakan ibadah puasa di Turki sebagai mahasiswa pascasarjana Universitas Ankara. Ramadhan tahun ini, bertepatan dengan musim panas, artinya puasa pada musim panas lebih lama dibanding musim-musim lainnya.

Kali ini, buka puasa di Turki sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Sebelum berbuka puasa, saya menghabiskan waktu mengunjungi stan di arena Genclik Park. Di sana, terdapat puluhan stan penjual aksesori, sepatu, kaus, buku, dan lain-lain. Di sekitar taman itu pun, disediakan masjid untuk shalat.

Yang menarik, di samping Genclik Park, terdapat juga Taman Luna Park. Taman ini merupakan taman wisata permainan, seperti Ancol atau Dunia Fantasi di Jakarta.

Selain perayaan Ramadhan di Genclik Park, ada pusat perbelanjaan Mal Panora. Pihak pengelola mal itu memeriahkan bulan puasa dengan menampilkan tarian Sema setiap hari Jumat dan Sabtu. Tarian Sema yang merupakan tarian sufi Maulana Jalaluddin Rumi ini ditampilkan satu jam menjelang buka puasa selama bulan Ramadhan.

Sejatinya, Maulana Jalaluddin Rumi bernama lengkap Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri atau sering disebut dengan Rumi. Ia adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada 6 Rabiul Awal 604 Hijriyah atau 30 September 1207 Masehi. Untuk mengenangnya, Pemerintah Turki membangun pusat kebudayaan Maulana Jalaluddin Rumi di Konya, Turki.

Selain menjalani Ramadhan, tahun ini juga kali pertama saya merayakan kemerdekaan ke-65 Republik Indonesia di Turki. Perayaan kemerdekaan RI di Wisma Kedutaan Besar Republika Indonesia (KBRI) Ankara, beberapa hari lalu, dihadiri masyarakat dan mahasiswa Indonesia di Turki.

Biasanya, setelah upacara, pihak KBRI menyediakan makanan khas Indonesia yang jarang kami temui di Turki. Namun, hari itu kami menundanya hingga berbuka puasa.

Panitia dari KBRI dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Turki membuat acara kerohanian sebelum berbuka puasa. Sehabis Zuhur, ruang serbaguna disulap menjadi masjid. Para pelajar pun membaca Alquran sambil ngabuburit.

Menjalani Ramadhan di negeri orang kerap menimbulkan kerinduan dengan rumah dan orang tua. Namun, kebersamaan dengan orang Indonesia lainnya di Turki cukup bisa menghibur hati dan kerinduan saya kepada keluarga di Indonesia.

Kebahagiaan yang tak terkira bagi kami, warga Indonesia, karena dapat saling bersilaturahim. Terlebih lagi, kami dapat menikmati hidangan buka puasa dengan makanan khas Indonesia yang jarang kami temui. ed: andi nur aminah

Dapat juga diakses di: http://koran.republika.co.id/koran/99/117786/Ramadhan_Terpusat_di_Taman_Pemuda_Turki

Israel Ubah Politik Turki

(Dimuat di Majalah Gontor, Edisi Juli 2010)

Oleh Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki)

Senin pagi di akhir Mei 2010, ratusan aktivis kemanusiaan Freedom Flotilla yang meng- gunakan kapal Mavi Marmara yang berangkat dari Turki menuju Gaza, Palestina diserang tentara khusus Israel di perairan internasional. Akibatnya aktivis dan sejumlah jurnalis yang ikut dalam pelayaran itu menjadi korban kebrutalan tentara Zionis. Sadisnya lagi, penyerangan itu dilakukan dari udara dan laut oleh pasukan katak tentara khusus Israel.

Awak kapal yang sejatinya ingin membantu orang-orang di Gaza yang tak bersenjata itu ditembak tanpa ampun. Tak ada perlawanan dari para aktivis itu. Bahkan bendera putih telah berkibar sebelum sampai di Gaza. Namun, pasukan khusus tentara Israel tetap menghabisi mereka dengan dalih mereka diserang dari kapal Mavi Marmara. Awalnya hanya granat kejut, bom asap, dan peluru karet. Namun, kemudian peluru betulan keluar juga dari senapan mereka. Puluhan orang terluka, dan sejumlah lainnya terbunuh dalam tragedi itu. Setelah penyerangan yang membabi buta itu geladak kapal bersimpah darah.

Di antara aktivis yang berada di kapal Mavi Marmara itu terdapat 12 warga negara Indonesia (WNI). Beruntung, ke-12 WNI itu selamat dari kematian. Salah satu rombongan dari Indonesia adalah jurnalis TV-One, Muhammad Yasin. Saya mengenal Yasin sejak bertugas bersama di wilayah Jakarta Timur. Saat mengetahui kabar bahwa Yasin termasuk dalam rombongan kemanusiaan itu saya mengkhawatirkan keadaannya dan keadaan WNI lainnya. Alhamdulillah, semua WNI selamat dari kebrutalan Israel itu.

Sehari sebelum pulang ke Indonesia, saya sempat melakukan pembicaraan melalui fasilitas jejaring sosial. Yasin mengatakan dirinya baik-baik saja, meski beberapa hari saat penyerangan itu, ia dan sejumlah relawan kema- nusiaan lainnya tidak bisa tidur. “Alhamdulillah saya bertambah baik,” katanya. Kedatangan Yasin pun disambut meriah di Indonesia. Rekan-rekan jurnalis lainnya yang berkumpul di Jakarta Timur menyambutnya dengan hangat.

Tragedi Mavi Marmara yang mene- waskan sembilan warga negara Turki telah mengubah peta hubungan baik antara Turki dan Israel. Turki menarik duta besarnya dan menuntut Israel minta maaf dan segera mengakhiri blokade atas Gaza. Turki marah besar atas kebrutalan tentara Israel yang menembaki para relawan kemanusiaan yang akan masuk Gaza. Turki merasa dikhianati Israel. Karenanya Turki menurunkan status hubungan dengan Israel, khususnya di bidang ekonomi dan pertahanan.Wakil Perdana Menteri Tukri Bulent Arinc mengungkapkan, semua kesepakatan dengan Israel tengah dievaluasi. ”Kami serius dalam masalah ini. Kerjasama baru tidak akan dimulai dan hubungan dengan Israel dikurangi,”katanya.

Akibat dari serangan brutal itu, ber- bagai aksi demontrasi anti Israel pun terjadi di berbagai daerah di belahan dunia, seperti halnya di Istambul dan Ankara, Turki. Di Ankara, puluhan mahasiswa turun ke jalan melakukan aksi mengutuk kekerasan dan ke- brutalan Israel. Para pendemo sore itu bergerak dari Dikimevi menuju Kizilay, pusat keramaian Ankara.
Meski hanya puluhan orang, namun teriakan ganyang Israel dan teriakan takbir dan tahlil yang dikumandangkan menarik perhatian banyak orang. Puluhan orang melihat aksi itu dari jejeran bangunan apartemen di se- panjang jalan menuju Kizilay.

Masih di pekan yang sama, ratusan mahasiswa dan warga Turki turun ke jalan yang berujung di depan kedutaan Israel di Ankara. Para demonstran itu membawa bendera Palestina dan Turki. Mereka mengecam kekerasan yang dilakukan oleh tentara Israel di perairan internasional itu.

Selain demontrasi yang dilakukan banyak pihak di berbagai daerah dan belahan dunia, banyak juga pihak yang mengecam kebrutalan Israel. Di antaranya disuarakan oleh Aliansi Per- himpunan Pelajar Indonesia di Luar Negeri atau PPI Dunia. Ketua Dewan Formatur PPI Dunia, M Fadlillah Fauzulhaq, menyatakan pihaknya mengecam pemblokadean Israel dan Mesir terhadap jalur Gaza sejak 2007 yang telah melanggar Hak-Hak Dasar Umum Kemanusiaan (Universal Declaration of Human Rights) yang tertera dalam United Nations Charter.

Selain itu, kata Fadlillah, pihaknya juga mengecam penyerangan Israel terhadap kapal Mavi Marmara yang telah menimbulkan korban luka dan korban jiwa pada 31 Mei 2010. Pe- nyerangan di laut bebas ini merupa- kan pelanggaran terhadap Pasal 87, 88, 89 dan 90 UNCLOS (United Nations Conventions on the Law of The Sea).

PPI Dunia, lanjut Fadlillah, me- nuntut Dewan Keamanan PBB (DK PBB) untuk meminta pertanggung- jawaban Israel dalam kasus tersebut dan melakukan penyelidikan dan pengadilan terhadap semua pihak yang terkait berdasarkan hukum in- ternasional. Selain itu, tambahnya, pihaknya juga meminta kepada semua negara di dunia untuk menekan Israel dalam memenuhi resolusi PBB (Resolusi S-9/1 tentang Perang Gaza) demi terbentuknya perdamaian di Timur Tengah dan Dunia.

Tak Pernah ke Gaza

“Al-Quds milik kami,”dan“Gaza di hati kami.” Dua kalimat itu tertera pada sorban orang-orang Palestina yang sedang mempresentasikan tentang negaranya di gedung pusat bahasa Uni- versitas Ankara, yang dalam bahasa aslinya “Al-Quds lana, wa Gazzah fi qulubina”. Tak seperti biasanya, saat menyaksikan pemaparan tentang Palestina, para penonton yang biasanya berisik, kali ini tidak ada suara sedikit pun. Mereka terdiam. Sebagian air mata mereka berlinang, ada juga yang menangis tersedu sedan.

Betapa tidak, pasalnya para penyaji itu menampilkan video tentang perang, tentang perjuangan orang-orang Pales- tina yang tak pernah menyerah meski dijajah Israel, tentang anak-anak yang tak berdosa yang menjadi korban kebiadaban Israel. Dalam video itu tergambar sejumlah anak yang terkena senjata pasukan Israel. Ada yang matanya hilang dan darah mengucur dari matanya seperti air mata yang mengalir saat menangis, dan ada pula anak yang diimpus di salah satu tempat penanganan darurat.

Di sesi lainnya, seorang warga Pa- lestina, diseret oleh tiga tentara Israel yang dilengkapi dengan senjata. Tidak sedikit perempuan-perempuan tua me- nangis melihat kekejaman tentara Israel seraya memeluk anaknya yang sudah tak bernyawa. Di tengah pertunjukan itu, seorang kawan lelaki asal Palestina yang sedang memaparkan negaranya, Samer Mhanna, meneteskan air mata. Dia tidak tega melihat negaranya diporakporandakan Israel.

Biasanya, pemaparan suatu negara dilengkapi dengan pengenalan budaya, bahasa, makanan, maupun ragam kesenian dari negara itu. Mahasiswa asal Indonesia,misalnya, menampilkan budaya, bahasa yang ratusan jenisnya, tarian Saman dari Aceh, serta beberapa musik pop Indonesia. Namun, mahasiswa asal Palesti- na tidak menampilkan budaya, makanan, maupun tarian, apalagi nyanyian musik pop. Mereka hanya memperkenalkan sejarah. “Kami tak tahu bagaimana harus menampilkan kebudayaan atau apapun yang negara lain tampilkan, kami hanya menyaji- kan keadaan yang sesungguhnya sedang terjadi di negeri kami,” kata Muayad Qasim, salah seorang dokter asal Palestina yang melanjutkan studinya dengan beasiswa pemerintah Turki di Ankara.

Dari empat video yang ditampilkan, salah satunya adalah video pidato tentang pendirian negara Palestina yang dikumandangkan oleh Yasser Arafat. Terpancar dari mata kelima orang Palestina yeng memaparkan negaranya sebuah pengharapan akan terulangnya kedaulatan yang utuh negara Palestina. Mereka masih mendambakan negara yang utuh yang tak ada gejolak apapun di negeri para nabi itu.

Muayad mengatakan, kehidupan yang digambarkan dalam video itu merupakan gambaran kehidupan bangsa Palestina sehari-hari. Sewaktu dia mengenyam sekolah menengah di wilayah Nablus, Palestina, cerita Muayad, tank tentara Israel mengelilingi sekolahnya dan tank itu berdiam diri di depan sekolahnya. Ia dan teman-teman sekelasnya sudah biasa melihat pemandangan itu. Aktivitas belajar mengajar tetap berjalan, meski dentuman keras keluar dari tank itu.

“Kehidupan di Palestina tetap berjalan seperti biasa meski bangun- an-bangunan, baik sekolah maupun perkantoran runtuh,” kata Muayad. Saat ditanya bagaimana ia bekerja sebagai dokter gigi di Palestina, Muayad menyatakan, dirinya bekerja seperti biasa, masuk pagi dan pulang kerja di sore hari. Baginya tak ada bedanya bekerja di manapun, yang membedakan hanyalah situasi. Keadaan seperti itu masih berjalan hingga saat ini.

Ketika dimintai komentar tentang tragedi Mavi Marmara, Samer menga- takan, ia tak bisa berkomentar apa- apa. Dia hanya bisa berdoa agar Allah SWT memberikan kekuatan kepada orang-orang Palestina dan orang- orang yang memberi bantuan untuk bangsanya. Di akhir perbincangan saya dengan kedua rekan asal Palestina itu, mereka mengatakan, “Selama hidup di Palestina, kami tak pernah menginjak tanah Gazza, meski kami mencintainya,” tandas Muayad yang diamini Samer.

Menengok Masjid Pertama di Afrika

(Dimuat di Republika, Jumat, 20 Agustus 2010)

Oleh Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki)

Masjid Amru Bin Ash adalah masjid pertama yang berdiri di benua Afrika.

Mesir merupakan negeri yang penuh dengan bangunan bersejarah. Salah satunya adalah Masjid Amru Bin Ash. Inilah masjid pertama berdiri di benua Afrika. Rumah Allah itu didirikan oleh sahabat Nabi Muhammad SAW yang juga penakluk negeri Mesir, Amru Bin Ash.

Masjid yang berdiri di kota Kairo itu dibangun pada tahun 641 M/21 H. Ketika saya berkunjung ke Negeri Kinanah, beberapa waktu lalu, untuk menghadiri Workshop Internasional dan Sosialisasi Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) di Kairo, sahabat saya, Mahir Mohamad Soleh, mahasiswa Universitas Al-Azhar, mengajak mengunjungi masjid tertua di Mesir yang juga tertua di benua Afrika itu.

Di Masjid Amru bin Ash, saya sempat melaksanakan shalat Ashar berjamaah. Namun, shaf (barisan-red) shalat berjamaah itu tidak dilakukan di shaf yang paling depan, melainkan di shaf belakang. Menurut Mahir, hal ini dilakukan jika jamaah yang melaksanakan shalat berjamaah sedikit, namun jika membludak maka shalat berjamaah biasa dilakukan mulai dari shaf yang paling depan.

Sebelum shalat kami mengambil wudlu. Tempat wudlu di masjid itu sangat menarik, karena dibagi menjadi dua. Tempat pertama diperuntukkan bagi yang menggunakan sandal, sementara yang menggunakan sepatu bisa melepasnya dan tanpa alas kaki langsung mengambil wudlu di tempat yang disediakan.

Usai shalat, saya merebahkan diri di atas lantai masjid yang terhampar karpet merah. Angin sepoi-sepoi menyapa kami. Di antara jamaah shalat Ashar pun ada yang terlelap tidur. Meski musim panas, udara di dalam masjid itu tidak terasa panas. Bagian tengah masjid itu tidak beratap dan lantai marmernya pun tidak diberi karpet.

Di tengah-tengah bagian masjid yang terbuka itu, tersedia air siap minum. Di bagian depan masjid ada sekelompok orang yang sedang berdiskusi. Saya tak tahu apa yang mereka diskusikan. Tiang-tiang masjid yang tertata rapi membuat masjid itu jadi bernilai seni tinggi. Masjid itu sempat menjadi tempat syuting filmKetika Cinta Bertasbih yang diadopsi dari novel yang sama karya Habiburrahman El-Shirazy.

Mahir mengatakan, saat hari-hari besar umat Islam dan bulan puasa, masjid itu selalu penuh, bahkan hingga di luar masjid. Selain itu, masjid ini juga oleh mahasiswa Universitas Al-Azhar digunakan untuk belajar dan menghafal Alquran. Sayangnya, saat saya di sana tidak melihat mahasiswa yang sedang belajar, sebab mereka sedang menikmati liburan musim panas sesudah bersusah payah menghadapi ujian kenaikan tingkat.

Masjid itu pertama kali dibangun pada tahun 21 Hijriah/641 Masehi. Banyak para sahabat dan tabi`in yang ikut serta dalam membangun mesjid ini, sehingga sampai delapan puluh sahabat menentukan arah Qiblat, diantaranya; Zubair Bin Awam, al-Miqdad, Ubadah Bin Shamat, Abu Darda, dan yang lainnya. Masjid itu berbentuk memanjang, dengan panjang 28,9 meter, dan lebar sisinya 17,4 meter, dindingnya terbuat dari batu bata, atapnya terbuat dari pelepah pohon kurma, dan ting-tiangnya dari batang pohon kurma dan memiliki enam pintu.

Masjid ini telah berulang kali direnovasi dan diperluas. Di antaranya, pada tahun 53 Hijriyah ( 672 M ) Pangeran Maslamah Bin Mukhllad al-Anshori telah memperluas masjid, kemudian diperluas oleh Pangeran Abdul Aziz Bin Marwan (Gubernur Mesir ketika itu ) tahun 79 Hijriyah ( 698 M ).

Pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik Bin Marwan, masjid itu di perbesar oleh Abdul Malik Bin Thahir. Kini, panjang Mesjid Amru mencapai120 meter, dan lebarnya 100 meter. Masjid itu juga pernah diperbaiki oleh Sultan Shalahuddin al-Ayubi pada tahun 568 H/1172 M. Masjid Amru begitu banyak mendapat perhatian dari kalangan pemerintah, dari masa pemerintahan Khulafau Rasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah, Dinasti Ayubiyyah, Dinasti Mamalik, sampai Dinasti Usmaniyah.

Masjid Amru Bin Ash bukan hanya tempat untuk shalat, tetapi juga menjadi pusat pendidikan Islam pertama di benua Afrika. Imam Syafii juga pernah mengajar di masjid itu. Hal itu menunjukan bahwa masjid Amru bin Ash telah menelurkan sarjana-sajana Muslim yang andal. Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki, ed; heri ruslan

Dolmabahce Istana Terakhir Kekhalifahan Turki Usmani

(Dimuat di Republika, Jumat, 2 Juli 2010)

Oleh Deden Mauli Darajat*

Istana Dolmabahce dibangun dengan menghabiskan dana sekitar 35 ton emas.

Turki begitu kaya akan warisan peradaban Islam. Betapa tidak. Di negara itulah kekhalifahan Islam terakhir berdiri. Instanbul merupakan salah satu kota yang kaya akan peninggalan bersejarah. Di kota yang menjadi incaran raja-raja pada zaman dulu itu berdiri sebuah bangunan bersejarah bernama Istana Dolmabahce.

Ketika beberapa waktu lalu, Ketua Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran, Dadan Maula Daramawan datang berkunjung ke Turki, saya pun mengajaknya berkunjung ke Istana Dolmabache. Di Istanbul memang banyak bangunan bersejarah yang masih terawat.

Istana Dolmabahce merupakan istana terakhir Kesultanan Turki Usmani. Letaknya sangat stategis. Istana itu langsung berhadapan dengan laut Bosporus. Dari atas kapal laut kita dapat melihat kemegahan istana itu dari kejauhan. Istana itu banyak menyimpan barang-barang pemberian dari para raja dari berbagai kerajaan.

Dolmabahce merupakan bangunan terakhir yang dibangun oleh penguasa Turki Usmani, Sultan Abdul Majid I yang memimpin Turki Usmani dari 1839-1861. Istana yang terletak di atas lahan seluas 110 ribu meter persegi itu dibangun pada 1843-1856. Pembangunan gedung bernuansa barat itu menghabiskan dana sebesar lima juta pound emas Usmani atau setara dengan 35 ton emas.

Sebanyak14 ton emas dalam bentuk emas digunakan untuk menghiasi 45 ribu meter persegi langit-langit monoblock istana. Yang bertanggung jawab atas pekerjaan konstruksi Haci Said Aga, sementara proyek ini direalisasikan oleh arsitek Garabet Balyan.

Istana itu memilik tiga lantai termasuk lantai bawah tanah. Dolmabahce memiliki 285 kamar dan 46 ruang, 6 kamar mandi khas Turki, 1.427 jendela, 68 toilet dan karpet yang menutupi lantai. Hingga kini, banguan dan segala isinya masih terjaga keasliannya.

Di area Istana Dolmabahce itu terdapat 16 banguan yang terletak di samping bangunan utama, seperti; pabrik, toko kaca, pengecoran, apotek dan dapur. Selain itu juga terdapat dua gerbang yang monumental, yakni Gerbang Jam Gadang, serta gerbang sepanjang 600 meter di pinggir dermaga sepanjang laut.

Batu porphyry yang menghiasi istana itu didatangkan dari kota Pergamum kuno, alabaster Mesir. Sedangkan perabotannya dibawa dari Paris. Bahan-bahan dari kristal Baccarat, didatangkan dari Inggris. Selain terbuat dari 40 ton emas, istana itu juga menggunakan 40 ton perak untuk dekorasi.

Bagian dalam Istana Dolmabahce dihiasi dengan lukisan-lukisan, dan langit-langit ilustrasi dibuat oleh seniman Perancis dan Italia. Lukisan karya perupa terkenal Rusia Aiwazowsky juga memperkaya dekorasi interior istana itu. Dalam dekorasi interior, di antaranya terdapat 156 jam serta 58 lilin. Istana ini juga berisi desain eklektik elemen Baroque, Rococo dan gaya neoklasik , dicampur dengan tradisional arsitektur Turki Usmani untuk menciptakan sebuah sintesis baru.

Tata letak istana dan dekorasinya mencerminkan pengaruh peningkatan standar budaya Eropa pada akhir kesultanan Turki Usmani. Dolmabahce merupakan istana terbesar di Turki, mengingat bahwa daerah monoblock menempati bangunan 45 ribu meter persegi.

Sebelumnya, Sultan dan keluarganya tinggal di Istana Topkapi, namun karena Istana Topkapi kurang menarik saat itu, maka sultan Abdul Majid I memutuskan untuk membangun Istana Dolmabahce. Istana ini mengandung banyak emas dan kristal.

Istana itu merupakan rumah bagi enam sultan dari 1856, ketika pertama kali dihuni, sampai penghapusan kekhalifahan pada 1924. Keluarga kerajaan yang terakhir tinggal di tempat itu adalah Sultan Abdul Majid Efendi. Undang-undang yang mulai berlaku pada 3 Maret 1924 menyebutkan bahwa kepemilikan istana dipindahkan dan menjadi warisan nasional Republik Turki baru.

Mustafa Kemal Ataturk, pendiri dan Presiden pertama Republik Turki, menggunakan istana kepresidenan sebagai tempat tinggal selama musim panas. Ataturk juga menghabiskan hari-hari terakhir perawatan medis di istana itu. Ia meninggal pada 10 November 1938.

Saat ini istana yang menjadi museum itu dibuka untuk umum. Para wisatawan yang ingin berkunjung dikenakan biaya sebesar 20 Turki Lira (TL) atau setara dengan Rp 140 ribu dengan kurs 1 TL sama dengan Rp 7.000. Di museum itu, para pengunjung dipandu oleh pemandu istana. Para pemandu ini menjelaskan istana ini dengan menggunakan bahasa Inggris bagi wisatawan mancanegara dan bahasa Turki bagi wisatawan lokal.

Jika Anda berwisata ke Turki, berkunjung ke Istana Dolmabahce layak Anda jadwalkan.

* Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki. Email: deden_md@yahoo.com

Bisa juga diakses di: http://koran.republika.co.id/koran/52/114316/Dolmabahce_Istana_Terakhir_Kekhalifahan_Turki_Usmani

Dan Orang Palestina pun tak Pernah ke Gaza

Oleh: Deden Mauli Darajat

“Al-Quds milik kami,” dan “Gaza di hati kami.”

Dua kalimat itu tertera pada sorban orang-orang Palestina yang sedang mempresentasikan tentang negaranya di gedung pusat bahasa Universitas Ankara, yang dalam bahasa aslinya “Al-Quds lana, wa Gazzah fi qulubina”. Tak seperti biasanya, saat menyaksikan pemaparan tentang Palestina para penonton yang biasanya bisik-berbisik, kali ini tidak ada suara sedikit pun. Mereka Terdiam. Sebagian air mata mereka berlinang, ada juga yang menangis tersedu sedan.

Betapa tidak, pasalnya para penyaji itu menampilkan video tentang perang, tentang perjuangan orang-orang Palestina yang tak pernah menyerah meski dijajah Israel, tentang anak-anak yang tak berdosa yang menjadi korban peperangan antara Palestina dan Israel. Dalam video itu tergambar sejumlah anak yang terkena senjata pasukan Israel. Ada yang matanya hilang dan darah mengucur dari matanya seperti air mata yang mengalir saat menangis, dan ada pula anak yang diimpus di salah satu tempat penanganan darurat.

Di sesi lainnya, seorang korban dewasa, diseret oleh tiga orang tentara yang dilengkapi dengan senjata. Tidak sedikit perempuan-perempuan tua menangis melihat kekejaman tentara Israel seraya memeluk anaknya yang sudah tak bernyama. Di tengah pertunjukan itu, seorang kawan lelaki asal Palestina yang sedang memaparkan negaranya, Samer Mhanna, meneteskan air matanya. Dia tidak tega melihat negaranya diporak porandakan oleh kekejian dan kezaliman dari bangsa yang tak mengenal perdamaian itu.

Biasanya, penamplian sejumlah negara dilengkapi dengan pengenalan budaya, bahasa, makanan maupun kesenian. Bahkan ada juga yang memperkenalkan tarian dan nyanyian dari sekitar 25 negara yang memperkenalkan kebudayaannya, termasuk negara Indonesia. Mahasiswa asal Indonesia menampilkan budaya, bahasa yang ratusan jenisnya, dan tarian saman dari Aceh, serta beberapa musik pop Indonesia.

Namun, dalam penampilan negara Palestina, mereka tidak menampilkan budaya, makanan, maupun tarian, apalagi nyanyian musik pop. Mereka hanya memeperkenalkan sejarah. “Kami tak tahu bagaimana harus menampilkan kebudayaan atau pun yang negara lain tampilkan, kami hanya menyajikan keadaan yang sesungguhnya yang terjadi dalam negeri kami,” kata Muayad Qasim, salah seorang dokter asal Palestina yang melanjutkan studinya dengan biaya beasiswa pemerintah Turki di Ankara.

Dari empat video yang ditampilkan, salah satunya adalah video pidato tentang kemerdekaan bangsa Palestina yang dikumandangkan oleh Yasser Arafat. Terpancar dari mata kelima orang Palestina yeng memaparkan negaranya sebuah pengharapan akan terulangnya kedaulatan yang utuh negara Palestina. Mereka masih mendambakan negara yang utuh yang tak ada gejolak apapun di negeri para nabi itu.

Muayad mengatakan, kehidupan yang digambarkan dalam video itu merupakan gambaran kehidupan bangsa Palestina sehari-hari. Sewaktu dia mengenyam sekolah menengah di wilayah Nablus, Palestina, cerita Muayad, tank tentara Israel mengelilingi sekolahnya dan tank itu berdiam diri di depan sekolahnya. Ia dan teman-teman sekelasnya sudah biasa melihat pemandangan itu. Aktivitas belajar mengajar tetap berjalan, meski dentuman keras keluar dari tank itu.

“Kehidupan di Palestina tetap berjalan seperti biasa meski bangunan-bangunan, baik sekolah maupun perkantoran runtuh,” kata Muayad serasa melanjutkan, “dan kami pun sudah terbiasa dengan keadaan sepert ini,” katanya. Saat ditanya bagaimana dia bekerja sebagai dokter gigi di Palestina, Muayad menyatakan, dirinya bekerja seperti biasa, masuk pagi dan pulang kerja di sore hari. Baginya tak ada bedanya bekerja di mana pun, yang membedakan hanyalah situasinya saja. Dan keadaan seperti itu masih berjalan hingga saat ini.

Masih hangat dalam ingatan, beberapa hari lalu, kapal kemanusiaan Mavi Marmara yang berangkat dari Turki yang membawa ratusan aktivis kemanusiaan dari berbagai negara dan mengangkut bantuan untuk warga Gaza itu diserang oleh tentara Israel yang mengakibatkan belasan meninggal dunia dan puluhan lainnya terluka. Akibatnya, aksi demontrasi anti Israel pun terjadi di berbagai belahan dunia, seperti halnya di Istanbul dan di Ankra, Turki.

Ditanya bagaimana, pandangan tentang serangan itu, Samer mengatakan, dirinya tak bisa berkomentar apa-apa, dia hanya bisa berdoa agar Allah SWT memberikan kekuatan kepada orang-orang Palestina dan orang-orang yang memberikan bantuan untuk bangsanya. Di akhir perbincangan saya dengan kedua rekan asal Palestina itu, mereka mengatakan, “kami pun selama hidup di Palestina tak pernah menginjak tanah Gazza, meski kami mencintainya,” tandas Muayad yang diamini Samer. deden_md@yahoo.com