Mengenang Said Nursi

(Dimuat di Republika, Jumat (15/10/2010))
Oleh Deden Mauli Darajat*

Selama hidupnya Badiuzzaman Said Nursi – ulama terkemuka asal Turki mengajarkan ilmunya kepada murid-muridnya, hingga wafat pada 1960. Setengah abad kemudian, para murid dan pengikutnya mengadakan Simposium Internasional IX Badiuzzaman di Istanbul, Turki. Puluhan ribu orang dari seluruh pelosok dunia, termasuk Indonesia datang menghadiri acara tersebut.

Simposium yang mengusung tema ”Ilmu, Iman, dan Akhlak” itu diadakan di sebuah hotel mewah di kawasan Istanbul. Acara itu digelar untuk memperkenalkan pemikiran dan pola dakwah yang dilakukan oleh pemikir Islam asal Turki itu.

Ketua panitia simposium, Prof Faris Kaya, mengatakan, simposium itu dilaksanakan untuk memperkenalkan pemikiran dakwah Said Nursi kepada masyarakat internasional. Sebab, menurut Kaya, pemikiran dan gerakan dakwah Said Nursi sangat relevan untuk diterapkan saat ini dengan tujuan untuk tercapainya kedamaian di dunia ini atau dengan bahasa lainnya adalah rahmatan lil’alamin.

Kaya menambahkan, pihaknya menerima 245 makalah dari ilmuwan berbagai negara di dunia, 210 diantaranya adalah ilmuwan yang baru pertama kali mengirimkan makalahnya. “Dari 245 ilmuwan yang mengirimkan makalahnya hanya 105 ilmuwan yang diterima,” paparnya.

Beberapa negara yang mengikuti acara tersebut di antaranya, Indonesia, Maroko, Australia, Malaysia, Mesir, Filipina, Yaman, Yordania, Libanon, Aljazair, Chad, Sudan, Niger, Jerman, Italia, Bosnia-Herzegovina, Afrika Selatan, Bulgaria, Suriah, Inggris, Amerika Serikat dan Kanada. Dari Indonesia sebanyak tujuh ilmuwan telah mengirimkan makalahnya dan hanya dua yang diterima.

Kedua ilmuwan asal Indonesia yang menjadi pembicara pada simposium tersebut adalah Prof Andi Faisal Bakti dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Dr.Asror Yusuf dari STAIN Kediri, Jawa Timur. Andi Faisal dalam makalahnya, mengatakan, pola dakwah Said Nursi adalah dari perubahan diri sendiri kemudian mengajak lingkungannya untuk berubah ke arah yang lebih baik yang diridhai Allah SWT. ”Memberikan teladan kepada orang-orang adalah pola dakwah yang paling efektif, dan inilah yang dilakukan Said Nursi,” kata Andi.

Simposium Internasional Badiuzzaman pertama kali dilaksanakan pada 1991. Kini, acara itu digelar secara rutin setiap tiga tahun sekali. Pembukaan simposium IX digelar di Stadion Sinan Ardim, Istanbul, dihadiri lebih dari 250 tokoh Muslim dunia dari 40 negara, termasuk beberapa tokoh terkemuka Turki, semisal; Bulent Aricn, mantan ketua parlemen Turki yang kini wakil perdana menteri, serta Husein Celik, anggota parlemen dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP). Husein Celik mengatakan dalam sambutannya, sepanjang hidupnya Said Nursi merupakan tokoh yang menentang rasisme dan diskriminasi.

Said Nursi adalah ulama terkemuka dari Turki. Ia dikenal sebagai salah seorang pemikir Islam yang paling cemerlang di zaman modern. Secara konsisten, Said Nursi memperjuangkan gagasannya yang menjadikan Islam sebagai agama yang dinamis di dunia modern. Said Nursi juga dikenal sebagai seorang teolog bervisi kokoh yang berupaya menyatukan dunia Islam yang telah retak.

Selama hidupnya, Said Nursi telah melahirkan sejumlah karya penting, salah satunya adalah Risale-i Nuratau Risalah Nur, sebuah tafsir Alquran setebal lebih dari enam ribu halaman. Bagi rakyat Turki, ia tak hanya sekadar ulama dan pemikir agung.

Said Nursi juga merupakan pahlawan bagi umat Islam di negara yang dulunya sempat menjadi adidaya dunia lewat Kekhalifahan Turki Usmani. Selain sempat memimpin pasukan untuk melawan invasi Rusia, secara gencar Said Nursi juga melakukan perlawanan atas sistem sekuler yang dibangun Mustafa Kemal Ataturk.

Sang ulama dan pemikir agung ini terlahir pada era kemunduran Dinasti Turki Usmani. Ia adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama Mirza dan ibunya bernama Nuriye atau Nura. Keluarga itu tinggal bersama masyarakat Kurdistan. Said Nursi lahir pada tahun 1876 M./1293 H., di sebuah kampung bernama Nurs yang terletak di bagian tenggara Turki. Kata Nursi di akhir namanya dinisbahkan kepada kampung kelahirannya tersebut. Ia meninggal pada tanggal 23 Maret 1960.

penulis: Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki, ed; heri ruslan

Juga dapat diakses di: http://koran.republika.co.id/koran/52/121089/Mengenang_Said_Nursi

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s