Menengok Masjid Pusat London

(Dimuat di Republika, Jumat, 5 Nopember 2010)
Oleh Deden Mauli Darajat*

Masjid Pusat London dilengkapi dengan perpustakaan yang berada di lantai dua.

Inggris bukanlah negara yang penduduknya mayoritas Muslim. Agak susah memang mencari masjid di negara Barat ini. Namun, tak sedikit wanita yang mengenakan kerudung atau jilbab berada di jalan-jalan Kota London. Dan, banyak juga orang-orang berpakaian dalam berbagai tipe di Ibu Kota Negeri Ratu Elizabeth itu.

Saat menghadiri simposium internasional Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (SI PPI Dunia 2010) di London, Inggris, saya bersama rekan lainnya menyempatkan untuk berkunjung ke Masjid Pusat London. Sekitar 45 menit untuk menuju masjid itu dari kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di London. Saat kami datang ke masjid yang terletak di daerah Westminster, London itu, ribuan jamaah datang untuk melaksanakan shalat Jumat. Para jamaah yang tidak dapat melaksanakan shalat di dalam, menggelar tikar di halaman masjid.

Usai shalat Jumat, orang-orang yang berjubah dari kawasan Timur Tengah berbincang dalam bahasa Arab. Selain itu, ada juga yang berbincang menggunakan bahasa Perancis, mereka berasal dari kawasan Afrika. Tak sedikit pula jamaah yang datang dari Bangladesh, Pakistan, dan India.

Masjid itu bukan sekadar masjid. Masjid Pusat London dilengkapi dengan perpustakaan yang berada di lantai dua, juga dilengkapi dengan kantin yang menyediakan makanan halal. Sebab, agak susah juga untuk mencari makanan halal di London. Selain itu, juga terdapat toko buku di lantai dasar masjid. Toko buku itu banyak menjual buku-buku Islam yang berbahasa Inggris. Masjid yang menampung lima ribuan jamaah itu disebut juga Islamic Cultural Centre atau Pusat Kebudayaan Islam.

Masjid ini didirikan pada 1977, yang dirancang oleh arsitek Sir Frederick Gibberd. Masjid ini memiliki kubah emas terkemuka. Ruang utama dapat menampung lebih dari lima ribu jamaah.

Masjid ini bergabung dengan Pusat Kebudayaan Islam yang secara resmi dibuka oleh Raja George VI pada 1944. Peresmian ini sebagai hadiah tanpa syarat kepada komunitas Muslim Inggris, termasuk tanah untuk pembangunan tersebut juga disumbangkan oleh George VI sebagai imbalan untuk sebuah situs di Kairo untuk Katedral Anglikan.

Pada awal 1900, banyak upaya yang dilakukan untuk membangun masjid di London, salah satunya yang dilakukan Lord Headley. Proyek ini didanai oleh Nizam dari Hyderabad. Kemudian, Lord Lloyd dari Dolobran (1879-1941), sekretaris dari negara untuk koloni, dan mantan presiden British Council bekerja sama dengan Komite Masjid yang terdiri dari berbagai tokoh Muslim dan duta besar di London juga mengupayakan pembangunan masjid.

Pada 1940, Pemerintah Inggris diyakinkan untuk menyajikan sebuah situs untuk sebuah masjid di London bagi komunitas Muslim Inggris dengan dana sebesar 100 ribu pounds. Tujuannya adalah untuk mengaktifkan kegiatan keislaman di Inggris yang dapat dilakukan dengan membangun masjid dan Islamic Cultural Centre. Sehingga, umat Islam di Inggris dapat melakukan urusan yang berkaitan dengan keagamaannya. Hadiah ini juga dimaksudkan sebagai penghormatan kepada ribuan tentara Muslim India yang mati membela Kerajaan Inggris.

Pada 1944, Komite Masjid, terdiri dari berbagai diplomat terkemuka Muslim dan warga Muslim di Inggris, menerima hadiah berupa The Islamic Cultural Centre yang meliputi Masjid Pusat London, didirikan dan resmi dibuka pada November oleh Raja George VI. Pada 1969, dibuka kompetisi internasional yang diselenggarakan untuk desain bangunan Masjid Pusat London. Lebih dari seratus desain diserahkan, baik dari pelamar Muslim maupun non-Muslim.

Akhirnya, dipilihlah disain arsitek Frederick Gibberd dari Inggris. Desain utama kompleks bangunan masjid dapat dibagi menjadi dua elemen, yakni sebuah bangunan utama yang terdiri dari dua ruang ibadah dan sayap, tiga lantai termasuk pintu masuk, perpustakaan, ruang baca, kantor administrasi dan menara.

Sebanyak dua juta pounds dana disumbangkan untuk pembangunan Islamic Cultural Centre oleh Raja Faisal Bin Abdul Aziz Al-Saud dari Saudi Arabia.

Bantuan lebih lanjut diberikan oleh penguasa Syekh Zayed bin Sultan Al Nahyan dari Abu Dhabi dan Presiden Uni Emirat Arab. Pada 1974, pekerjaan konstruksi dimulai. Pada Juli 1977, pekerjaan telah selesai dengan total biaya sebesar 6,5 juta pounds.

*penulis adalah mahasiswa pascasarjana Universitas Ankara, Turki. Ed; heri ruslan

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s