Berlebaran di Negeri Orang

(Dimuat di Detik.com, Jumat 10/9/2010)

Oleh Deden Mauli Darajat (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Takbir menggema di dalam masjid Hasan Tanik Cankaya Ankara, Turki. Tepat pukul 07.00 Waktu Turki kami melaksanakan shalat Ied di masjid dekat rumah kami itu, Kamis (9/9/2010). Saat kami datang 15 menit sebelum dimulai shalat rupanya jamaah sudah memenuhi ruangan masjid. Sejumlah orang pun sudah menggelar tikar di halaman masjid.

Untungnya masih ada shaf kosong di bagian tengah dan saya pun duduk di sana. Sebisa mungkin saya khusuk mengalunkan takbir yang rasanya sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Berbeda karena di sekeliling saya adalah orang-orang Turki. Rasanya ingin shalat Ied berjamaah bersama keluarga dan sanak saudara di kampung halaman.

Usai shalat kami bersalaman bersama imam masjid yang merupakan imam tetap di masjid itu. Pemerintah Turki sudah menetapkan satu imam dan wakilnya di setiap masjid. Dan imam shalat Ied itu adalah imam kami juga saat shalat tarawih. Selain menjadi imam, ia pun menjadi khatib pada shalat Ied. Juga menjadi imam dan khatib di setiap shalat Jumat.

Imam masjid merupakan petugas yang ditunjuk pemerintah dan digaji setiap bulannya. Hanya sesekali saja imam itu diganti oleh wakilnya. Pemerintah Turki juga sudah menetapkan Idul Fitri jauh-jauh hari sebelumnya, bahkan hingga tahun 2015 mendatang pun sudah ditetapkan kapan dilaksanakan Idul Fitri dan Idul Adha. Tak ada perbedaan pendapat soal lebaran di negeri ini.

Saat keluar masjid, ada beberapa orang yang membagikan manisan di depan pintu masjid. Manisan itu dibagikan kepada jamaah yang sudah melaksanakan shalat Ied. Saya pun mencicipi manisan itu. Di luar masjid teman kami yang juga warga Indonesia sudah menunggu, sebagian besar adalah mahasiswa sebagian lainnya staf KBRI Ankara dan warga Indonesia yang menetap di Turki.

Kami saling bersalaman dan berpelukan satu sam lain. Hangat sekali. Sesekali bersenda gurau. Sebenarnya orang-oang Indonesia yang kami temui usai shalat itu adalah orang-orang yang juga sering kami temui saat buka puasa bersama pada bulan Ramadhan lalu.

Dalam perjalanan menuju rumah, suasana di sekeliling komplek kami sangat sepi. Mungkin mereka sedang bercengkrama dengan keluarganya masing-masing. Kami pun berlima yang menempati rumah tak mau kalah. Bahkan beberapa hari sebelum lebaran kami sudah menyiapkan masakan Indonesia. Ini dilakukan agar kami masih merasakan berlebaran di Indonesia. Memang tak banyak yang kami buat, hanya membuat lontong dan opor ayam. Namun, cukuplah untuk sedikit merasakan.

Ada yang menarik yang disampaikan penceramah sebelum shalat Ied dimulai. Ia mengatakan, kita harus bersyukur masih bisa melaksanakan dan merayakan lebaran Idul Fitri dibanding saudara-saudara muslim lainnya yang tidak bisa merayakannya seperti umat Muslim di Pakistan yang dilanda musibah. Rasanya saya malu saat saya harus sedih karena tidak bisa berlebaran bersama keluarga, karena ternyata masih banyak orang-orang yang belum bisa berlebaran.

Pembaca yang budiman, akhirnya, dari lubuk hati yang terdalam, ijinkan saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 Hijriyah, Allahummaj’alna minal ‘aidin wal faizin, Taqabbalallahu minna waminkum, Kullu ‘am wa antum bi khair. Mohon maaf lahir dan batin.

Ankara, Turki, Kamis 9 September 2010/1 Syawwal 1431 H

Dapat juga diakses di: http://ramadan.detik.com/read/2010/09/10/093654/1438709/631/berlebaran-di-negeri-orang