Dan Orang Palestina pun tak Pernah ke Gaza

Oleh: Deden Mauli Darajat

“Al-Quds milik kami,” dan “Gaza di hati kami.”

Dua kalimat itu tertera pada sorban orang-orang Palestina yang sedang mempresentasikan tentang negaranya di gedung pusat bahasa Universitas Ankara, yang dalam bahasa aslinya “Al-Quds lana, wa Gazzah fi qulubina”. Tak seperti biasanya, saat menyaksikan pemaparan tentang Palestina para penonton yang biasanya bisik-berbisik, kali ini tidak ada suara sedikit pun. Mereka Terdiam. Sebagian air mata mereka berlinang, ada juga yang menangis tersedu sedan.

Betapa tidak, pasalnya para penyaji itu menampilkan video tentang perang, tentang perjuangan orang-orang Palestina yang tak pernah menyerah meski dijajah Israel, tentang anak-anak yang tak berdosa yang menjadi korban peperangan antara Palestina dan Israel. Dalam video itu tergambar sejumlah anak yang terkena senjata pasukan Israel. Ada yang matanya hilang dan darah mengucur dari matanya seperti air mata yang mengalir saat menangis, dan ada pula anak yang diimpus di salah satu tempat penanganan darurat.

Di sesi lainnya, seorang korban dewasa, diseret oleh tiga orang tentara yang dilengkapi dengan senjata. Tidak sedikit perempuan-perempuan tua menangis melihat kekejaman tentara Israel seraya memeluk anaknya yang sudah tak bernyama. Di tengah pertunjukan itu, seorang kawan lelaki asal Palestina yang sedang memaparkan negaranya, Samer Mhanna, meneteskan air matanya. Dia tidak tega melihat negaranya diporak porandakan oleh kekejian dan kezaliman dari bangsa yang tak mengenal perdamaian itu.

Biasanya, penamplian sejumlah negara dilengkapi dengan pengenalan budaya, bahasa, makanan maupun kesenian. Bahkan ada juga yang memperkenalkan tarian dan nyanyian dari sekitar 25 negara yang memperkenalkan kebudayaannya, termasuk negara Indonesia. Mahasiswa asal Indonesia menampilkan budaya, bahasa yang ratusan jenisnya, dan tarian saman dari Aceh, serta beberapa musik pop Indonesia.

Namun, dalam penampilan negara Palestina, mereka tidak menampilkan budaya, makanan, maupun tarian, apalagi nyanyian musik pop. Mereka hanya memeperkenalkan sejarah. “Kami tak tahu bagaimana harus menampilkan kebudayaan atau pun yang negara lain tampilkan, kami hanya menyajikan keadaan yang sesungguhnya yang terjadi dalam negeri kami,” kata Muayad Qasim, salah seorang dokter asal Palestina yang melanjutkan studinya dengan biaya beasiswa pemerintah Turki di Ankara.

Dari empat video yang ditampilkan, salah satunya adalah video pidato tentang kemerdekaan bangsa Palestina yang dikumandangkan oleh Yasser Arafat. Terpancar dari mata kelima orang Palestina yeng memaparkan negaranya sebuah pengharapan akan terulangnya kedaulatan yang utuh negara Palestina. Mereka masih mendambakan negara yang utuh yang tak ada gejolak apapun di negeri para nabi itu.

Muayad mengatakan, kehidupan yang digambarkan dalam video itu merupakan gambaran kehidupan bangsa Palestina sehari-hari. Sewaktu dia mengenyam sekolah menengah di wilayah Nablus, Palestina, cerita Muayad, tank tentara Israel mengelilingi sekolahnya dan tank itu berdiam diri di depan sekolahnya. Ia dan teman-teman sekelasnya sudah biasa melihat pemandangan itu. Aktivitas belajar mengajar tetap berjalan, meski dentuman keras keluar dari tank itu.

“Kehidupan di Palestina tetap berjalan seperti biasa meski bangunan-bangunan, baik sekolah maupun perkantoran runtuh,” kata Muayad serasa melanjutkan, “dan kami pun sudah terbiasa dengan keadaan sepert ini,” katanya. Saat ditanya bagaimana dia bekerja sebagai dokter gigi di Palestina, Muayad menyatakan, dirinya bekerja seperti biasa, masuk pagi dan pulang kerja di sore hari. Baginya tak ada bedanya bekerja di mana pun, yang membedakan hanyalah situasinya saja. Dan keadaan seperti itu masih berjalan hingga saat ini.

Masih hangat dalam ingatan, beberapa hari lalu, kapal kemanusiaan Mavi Marmara yang berangkat dari Turki yang membawa ratusan aktivis kemanusiaan dari berbagai negara dan mengangkut bantuan untuk warga Gaza itu diserang oleh tentara Israel yang mengakibatkan belasan meninggal dunia dan puluhan lainnya terluka. Akibatnya, aksi demontrasi anti Israel pun terjadi di berbagai belahan dunia, seperti halnya di Istanbul dan di Ankra, Turki.

Ditanya bagaimana, pandangan tentang serangan itu, Samer mengatakan, dirinya tak bisa berkomentar apa-apa, dia hanya bisa berdoa agar Allah SWT memberikan kekuatan kepada orang-orang Palestina dan orang-orang yang memberikan bantuan untuk bangsanya. Di akhir perbincangan saya dengan kedua rekan asal Palestina itu, mereka mengatakan, “kami pun selama hidup di Palestina tak pernah menginjak tanah Gazza, meski kami mencintainya,” tandas Muayad yang diamini Samer. deden_md@yahoo.com