Al-Azhar, Masjid Pendiri Universitas Tertua di Dunia

(Dimuat di Republika, Ahad, 26 Des 2010)
Oleh Deden Mauli Darajat*

Mesir merupakan negara yang banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka di dunia. Negara di daratan utara Afrika itu dikenal dengan “Negeri Kinanah” yang berarti ‘anak panah’ yang siap disebar di penjuru dunia. Anak panah yang berarti para ulama itu dilahirkan dari salah satu universitas tertua di dunia, yaitu Universitas Al-Azhar.

Beberapa waktu lalu, saat berkunjung ke Kairo, Mesir, saya menyempatkan untuk berkunjung ke salah satu masjid tertua di negeri para nabi itu. Masjid Al-Azhar berada di pusat Kota Kairo yang berdekatan dengan pasar yang sangat asri. Angin sepoi berembus saat saya tiba di ruangan terbuka masjid itu. Meski musim panas, di masjid itu terasa dingin karena lantai masjid berbahan marmer.

Setelah berkunjung ke pasar yang dekat masjid, akhirnya saya dan beberapa rekan melaksanakan shalat Maghrib dan Isya sembari istirahat dan menikmati Masjid Al-Azhar pada malam hari. Lampu penerang dari menara menambah indahnya masjid itu pada malam hari. Pantulan cahaya di atas lantai marmer itu menambah kesyahduan dalam beribadah.

Beberapa orang yang selesai melaksanakan shalat Maghrib dan menunggu Isya, tampak asyik merebahkan diri di atas lantai masjid itu. Begitu juga sebagian lainnya membaca ayat suci Alquran. Di antara jamaah itu, terdapat mahasiswa asal Indonesia yang khusyuk membaca Alquran. Saat azan Isya berkumandang, sejumlah orang masuk ke dalam masjid dan ikut shalat berjamaah.

Masjid Al-Azhar dibangun pada 24 Jumadil Awal 359H/970 M. Masjid itu merupakan gabungan dari semua gaya dan pengaruh yang telah melewati Mesir, dengan sebagian besarnya telah direnovasi oleh Abdarrahman Khesheda. Masjid itu memiliki lima menara yang di dalamnya terdapat balkon kecil dan kolom berukir.

Masjid pendiri Universitas Al-Azhar itu memiliki enam pintu masuk, dengan pintu masuk utama menjadi Bab el-Muzayini (gerbang tukang cukur) pada abad ke-18, di mana siswa pernah dicukur di sana. Gerbang ini mengarah ke sebuah halaman kecil dan kemudian ke Madrasah Aqbaughawiya di sebelah kiri, yang dibangun pada 1340 M dan berfungsi sebagai perpustakaan. Di sebelah kanan terdapat Madrasah Taybarsiya yang dibangun pada 1310 M dan memiliki mihrab yang sangat halus.

Dalam perjalanan waktu yang panjang, Al-Azhar yang berdiri kokoh mulai dipadati oleh para penuntut ilmu dari berbagai pelosok dunia. Seiring dengan waktu, Al-Azhar, selain mempertahankan metode klasiknya dalam sistem pengajaran dalam bentuk talaqi, juga mengikuti metode modern berupa pembentukan universitas.

Universitas Al-Azhar merupakan lembaga ilmiah keagamaan terbesar di dunia. Universitas itu diresmikan oleh Khalifah Al-Muiz Li Dinillah-khalifah kedua Dinasti Fatimiah-ditandai dengan shalat Jumat di dalamnya pada 1 Ramadhan 361H/972M.

Al-Azhar adalah universitas tertua kedua di dunia setelah Universitas Al-Qairawain, Fes, Maroko, yang didirikan pada 245 H/859M. Al-Azhar didirikan dengan tujuan untuk menyebarkan agama Islam dan ilmu pengetahuan lainnya. Di bawah kepemimpinan Al-Qadhi Abu Hanifah bin Muhammad Al-Qairawaini, Al-Azhar mengajarkan ilmu keagamaan, bahasa, qiraat, mantiq dan falak.

Kebudayaan Eropa tampaknya berpengaruh, baik pada pengayaan keilmuan yang dikaji maupun sistem pendidikannya. Pada masa Muhammad Ali Al-Kabir, sistem pengajaran di Al-Azhar mulai dibenahi. Mahasiswa bebas memilih pelajaran dan guru sesuai minat. Setelah merasa mampu menguasai pelajaran, setiap mahasiswa akan diuji di hadapan gurunya secara lisan. Jika dinyatakan lulus, diberi ijazah untuk mengajarkan ilmu tersebut.

Pada akhir abad ke-19, Universitas Al-Azhar baru menerapkan sistem modern di kampus negeri Nabi Musa itu. Pada 1961, Al-Azhar mulai membuka fakultas-fakultas umum di samping fakultas keagamaan yang meliputi kedokteran, farmasi, tarbiyah, teknik, administrasi, bahasa dan terjemah, pertanian, dan sains.

Kini, Al-Azhar yang bercirikan wasathiyyah (moderat), memiliki cabang di sebagian besar Provinsi Mesir dan beberapa negara di Afrika yang mencapai 62 fakultas.

*penulis Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki.

 

Iklan

Singgak ke Gua Kesabaran Nabi Ayyub

(Dimuat di Republika, Jumat, 17 Des 2010)
Oleh Deden Mauli Darajat (Mahasiswa pascasarjana Universitas Ankara, Turki)

Kesabaran lekat pada diri Nabi Ayyub. Berbekal sifat ini ia mampu melewati ujian yang menerpanya. Semua harta benda miliknya habis tak bersisa. Anggota keluarganya meninggal satu per satu. Penyakit yang tak kunjung sembuh juga membekap dirinya. Namun, ia tegar dan ikhlas menghadapi itu semua.

Belum lama ini, saya bersama sejumlah rekan mengunjungi gua kesabaran Nabi Ayyub yang berlokasi di Urfa, Turki. Gua ini berada di bawah tanah yang dikelilingi bangunan seluas 5×5 meter. Untuk memasukinya, seseorang harus turun melalui tangga yang hanya cukup untuk satu orang.

Gua itu sendiri mempunyai luas 5×4 meter persegi dengan tinggi sekitar satu hingga dua meter. Karena tak begitu luas, pengungung tak bisa berlama-lama berada di dalam gua tersebut. Sebab, banyak pengunjung lain yang juga ingin masuk ke dalam gua kesabaran itu.

Sekitar 15 meter dari gua kesabaran, ada sebuah sumur sebagai sumber air yang digunakan Nabi Ayyub untuk menyembuhkan penyakitnya. Sumur yang ditutup rapat itu hanya dapat dilihat dari lubang kecil yang berada di atas sumur. Di area gua juga terdapat masjid cukup besar.

Pengunjung gua biasanya menyempatkan singgah ke masjid dan menunaikan shalat di sana. Cukup banyak wisatawan lokal maupun luar negeri yang menyambangi gua kesabaran yang pernah dihuni Nabi Ayyub itu. Mereka berpose dan mengabadikan tempat bersejarah itu dengan kamera yang mereka bawa.

Sejumlah warga sekitar memanfaatkan kunjungan para wisatawan untuk menjaring rezeki. Mereka mendirikan toko dan warung. Sementara itu, di samping gua terdapat lapangan luas yang biasa digunakan warga untuk berolahraga. Terkadang, lapangan digunakan untuk tempat penyembelihan kurban saat Idul Adha.

Dalam kehidupannya, Nabi Ayyub merupakan hamba Allah yang dikaruniai dengan harta benda berlimpah dan keluarga sakinah. Gelimang harta tak membuat dia lupa untuk menunaikan ibadah dan berzikir kepada Allah. Ia menunaikan itu semua sebagai ungkapan syukur atas segala karunia yang Allah berikan.

Melihat keteguhan iman dan rasa syukur Nabi Ayyub yang berlimpah, iblis merasa panas hati dan dongkol. Sang iblis tak rela melihat itu semua. Maka pergilah ia mendatangi Ayyub untuk menguji sebesar apa imannya kepada Allah. Sebelumnya, iblis menghadap Allah meminta izin melakukan godaan terhadap Ayyub. Allah mengizinkannya.

Lalu, iblis mengumpulkan kekuatan, mencoba merusak keimanan Ayyub agar berpaling dari Allah. Mereka menempuh cara dengan memusnahkan harta kekayaan Ayyub hingga membuatnya menjadi seorang yang miskin. Harta yang semula terkumpul di tangannya, lenyap sudah.

Cobaan lainnya menghantam Ayyub. Keluarga dan anak-anaknya meninggal dunia. Penyakit kulit juga menempel di tubuhnya. Hanya istrinya yang setia mendampinginya. Namun, dengan bisikan iblis akhirnya sang istri pun meninggalkannya. Ia berjanji akan memukul istrinya dengan 100 kali cambukan karena istrinya sudah tergoda imannya.

Akhirnya, Ayyub sendirian. Ia bermunajat kepada Allah dengan sepenuh harap rahmat dan kasih sayang-Nya. Ia berdoa, “Wahai Tuhanku, aku telah diganggu setan dengan kepayahan, kesusahan, serta siksaan. Engkaulah wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”. (QS Shad [38]: 41).

Allah menerima doa Ayyub yang telah mencapai puncak kesabaran dan keteguhan iman. Ia diminta untuk menghantam tanah. Dari situ air memancar dan digunakan untuk membasuh penyakit yang ia derita. Tak lama kemudian, penyakit kulit yang melekat di badannya sirna.

Dapat juga diakses di: http://koran.republika.co.id/koran/52/125334/Singgah_ke_Gua_Kesabaran_Nabi_Ayyub

 

Menengok Tempat Pembakaran Nabi Ibrahim AS

Menengok Tempat Pembakaran Nabi Ibrahim AS

(Dimuat di Republika, Jumat, 26 Nopember 2010)

Oleh Deden Mauli Darajat *

Nabi Ibrahim AS merupakan rasul atau utusan Allah yang diberikan banyak mukjizat. Salah satunya, Ibrahim AS tak mempan dibakar api yang ganas. Bapak monoteisme itu sempat dibakar dalam api yang menyala-nya setelah menghancurkan berhala-berhala yang disembah oleh ayah dan kaumnya.

Namun, Nabi Ibrahim tak takut menghadapi hukuman dari kaumnya itu. Lalu, Allah SWT menyelamatkannya dari panasnya api yang menyala-nyala. “Kami berfirman, ‘hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim’.” (QS Al-Anbiyaa [21]: 69)

Konon, Nabi Ibrahim AS dibakar di wilayah Urfa, Turki. Saat liburan Idul Adha 1431 H, saya bersama beberapa rekan mengunjungi tempat pembakaran ayah dari Nabi Ismail itu. Untuk menuju tempat pembakaran yang berada di bagian selatan Turki itu, kami berangkat dari Ankara menggunakan bus antarkota selama 12 jam perjalanan.

Kami tiba di Urfa pukul 07.00 waktu setempat. Pagi itu, rupanya para peziarah sudah banyak yang berdatangan. Maklum, di Turki sedang musim liburan. Berbeda dengan di Indonesia, liburan Idul Adha di Turki lebih panjang ketimbang liburan Idul Fitri.

Di tempat pembakaran itu, terdapat kolam ikan yang cukup luas. Kolam itu berisi ikan berwarna hitam doveyang seperti ikan gabus. Hanya ada satu jenis ikan dalam kolam itu dengan berbagai ukuran, mulai dari kecil hingga besar.

Masyarakat setempat mengatakan bahwa ikan-ikan yang berada di kawasan pembakaran Nabi Ibrahim itu tidak boleh dimakan. Tidak tahu mengapa ikan itu tidak boleh dimakan. Setelah kami berkeliling, kolam itu rupanya mengalir ke berbagai selokan di sekitar tempat itu. Selokan yang jernih itu dihiasi dengan sejumlah ikan hitam itu.

Sekitar 100 meter dari tempat pembakaran terdapat tempat kelahiran Nabi Ibrahim. Di samping tempat kelahiran itu telah berdiri dua masjid, yaitu Masjid Maulid Halil yang didirikan pada 1808 M dan Masjid Maulid Halil Baru yang didirikan pada 1980 M.

Para pengunjung melantunkan zikir dan doa saat mereka berkunjung ke tempat kelahiran Nabi Ibrahim. Para wisatawan yang mengenakan peci haji dan perempuan-perempuan yang berkerudung hitam menyempatkan untuk shalat di masjid tersebut.

Dari tempat kelahiran itu kami beranjak ke bukit di belakang masjid. Bukit itu adalah tempat Nabi Ibrahim dilempar dari atas bukit ke tempat pembakaran dengan api yang telah menyala. Di bukit itu terdapat dua tiang besar dan bekas bangunan tua yang sudah runtuh, tetapi dirawat dan dijadikan museum oleh pemerintah setempat.

Untuk memasuki museum itu, para pengunjung harus membayar sebesar 3 lira Turki atau sekitar Rp 18 ribu (1 lira sama dengan Rp 6.000). Nabi Ibrahim adalah putra Aazar (Tarih) bin Tahur bin Saruj bin Rau’ bin Falij bin Aaabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh AS.

Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama “Faddam A’ram” dalam kerajaan “Babylon” yang pada waktu itu diperintah oleh seorang raja bernama Namrud bin Kan’aan.

Pada masa itu, Babylon termasuk kerajaan yang makmur dan rakyat hidup senang. Akan tetapi, kebutuhan rohani mereka masih berada di tingkat Jahiliyah. Mereka menyembah patung-patung yang mereka pahat sendiri dari batu-batu atau terbuat dari lumpur dan tanah.

Raja Namrud bin Kan’aan menjalankan tampuk pemerintahnya dengan tangan besi dan kekuasaan mutlak. Di tengah-tengah masyarakat yang sedemikian buruknya, lahir dan dibesarkanlah Nabi Ibrahim dari seorang ayah yang bekerja sebagai pemahat dan pedagang patung.

Mulai beranjak dewasa, Ibrahim sudah mulai berdakwah kepada masyarakatnya untuk meninggalkan kebiasaan menyembah berhala. Yang pertama, ia mengajak ayahnya ke jalan yang diridai Allah. Namun, ayahnya murka dan mengusir Ibrahim. Meski demikian, Ibrahim tak pernah berhenti untuk berdakwah di kalangan kaum musyrik.

Sudah menjadi tradisi dan kebiasaan penduduk kerajaan Babylon bahwa setiap tahun mereka keluar kota beramai-ramai pada suatu hari raya yang mereka anggap sebagai keramat. Berhari-hari mereka berada di luar kota. Nabi Ibrahim pun diajak, teatpi ia berpura-pura sakit dan diizinkanlah untuk tinggal di rumah.

Saat kota itu kosong, Nabi Ibrahim menghancurkan sejumlah patung dengan menggunakan kapak. Cuma satu patung yang besar yang ia tidak hancurkan. Dan, pada patung besar itulah kapak Ibrahim diletakkan. Alangkah kaget dan murkanya masyarakat saat datang ke kotanya saat melihat patung sesembahannya telah hancur. Mereka sadar yang menghancurkan itu adalah Ibrahim.

Akhirnya, Nabi Ibrahim diadili di pengadilan yang dihadiri semua masyarakat setempat. Di sinilah Ibrahim berdakwah secara terang-terangan. Nabi Ibrahim pun dihukum dan dibakar hidup-hidup sebagai ganjaran atas perbuatannya menghina dan menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Masyarakat sekitar bergotong royong mengumpulkan kayu bakar.

Kayu lalu dibakar dan terbentuklah gunung berapi yang dahsyat. Kemudian dalam keadaan terbelenggu, Nabi Ibrahim dilempar dari atas sebuah gedung di atas bukit yang tinggi ke dalam tumpukan kayu yang menyala. Ajaibnya, usai api itu berhenti menyala, keluarlah Nabi Ibrahim dari pembakaran itu dengan tidak terluka sedikit pun.

*penulis: mahasiswa pascasarjana universitas Ankara, Turki

 

Menengok Masjid Pusat London

(Dimuat di Republika, Jumat, 5 Nopember 2010)
Oleh Deden Mauli Darajat*

Masjid Pusat London dilengkapi dengan perpustakaan yang berada di lantai dua.

Inggris bukanlah negara yang penduduknya mayoritas Muslim. Agak susah memang mencari masjid di negara Barat ini. Namun, tak sedikit wanita yang mengenakan kerudung atau jilbab berada di jalan-jalan Kota London. Dan, banyak juga orang-orang berpakaian dalam berbagai tipe di Ibu Kota Negeri Ratu Elizabeth itu.

Saat menghadiri simposium internasional Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (SI PPI Dunia 2010) di London, Inggris, saya bersama rekan lainnya menyempatkan untuk berkunjung ke Masjid Pusat London. Sekitar 45 menit untuk menuju masjid itu dari kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di London. Saat kami datang ke masjid yang terletak di daerah Westminster, London itu, ribuan jamaah datang untuk melaksanakan shalat Jumat. Para jamaah yang tidak dapat melaksanakan shalat di dalam, menggelar tikar di halaman masjid.

Usai shalat Jumat, orang-orang yang berjubah dari kawasan Timur Tengah berbincang dalam bahasa Arab. Selain itu, ada juga yang berbincang menggunakan bahasa Perancis, mereka berasal dari kawasan Afrika. Tak sedikit pula jamaah yang datang dari Bangladesh, Pakistan, dan India.

Masjid itu bukan sekadar masjid. Masjid Pusat London dilengkapi dengan perpustakaan yang berada di lantai dua, juga dilengkapi dengan kantin yang menyediakan makanan halal. Sebab, agak susah juga untuk mencari makanan halal di London. Selain itu, juga terdapat toko buku di lantai dasar masjid. Toko buku itu banyak menjual buku-buku Islam yang berbahasa Inggris. Masjid yang menampung lima ribuan jamaah itu disebut juga Islamic Cultural Centre atau Pusat Kebudayaan Islam.

Masjid ini didirikan pada 1977, yang dirancang oleh arsitek Sir Frederick Gibberd. Masjid ini memiliki kubah emas terkemuka. Ruang utama dapat menampung lebih dari lima ribu jamaah.

Masjid ini bergabung dengan Pusat Kebudayaan Islam yang secara resmi dibuka oleh Raja George VI pada 1944. Peresmian ini sebagai hadiah tanpa syarat kepada komunitas Muslim Inggris, termasuk tanah untuk pembangunan tersebut juga disumbangkan oleh George VI sebagai imbalan untuk sebuah situs di Kairo untuk Katedral Anglikan.

Pada awal 1900, banyak upaya yang dilakukan untuk membangun masjid di London, salah satunya yang dilakukan Lord Headley. Proyek ini didanai oleh Nizam dari Hyderabad. Kemudian, Lord Lloyd dari Dolobran (1879-1941), sekretaris dari negara untuk koloni, dan mantan presiden British Council bekerja sama dengan Komite Masjid yang terdiri dari berbagai tokoh Muslim dan duta besar di London juga mengupayakan pembangunan masjid.

Pada 1940, Pemerintah Inggris diyakinkan untuk menyajikan sebuah situs untuk sebuah masjid di London bagi komunitas Muslim Inggris dengan dana sebesar 100 ribu pounds. Tujuannya adalah untuk mengaktifkan kegiatan keislaman di Inggris yang dapat dilakukan dengan membangun masjid dan Islamic Cultural Centre. Sehingga, umat Islam di Inggris dapat melakukan urusan yang berkaitan dengan keagamaannya. Hadiah ini juga dimaksudkan sebagai penghormatan kepada ribuan tentara Muslim India yang mati membela Kerajaan Inggris.

Pada 1944, Komite Masjid, terdiri dari berbagai diplomat terkemuka Muslim dan warga Muslim di Inggris, menerima hadiah berupa The Islamic Cultural Centre yang meliputi Masjid Pusat London, didirikan dan resmi dibuka pada November oleh Raja George VI. Pada 1969, dibuka kompetisi internasional yang diselenggarakan untuk desain bangunan Masjid Pusat London. Lebih dari seratus desain diserahkan, baik dari pelamar Muslim maupun non-Muslim.

Akhirnya, dipilihlah disain arsitek Frederick Gibberd dari Inggris. Desain utama kompleks bangunan masjid dapat dibagi menjadi dua elemen, yakni sebuah bangunan utama yang terdiri dari dua ruang ibadah dan sayap, tiga lantai termasuk pintu masuk, perpustakaan, ruang baca, kantor administrasi dan menara.

Sebanyak dua juta pounds dana disumbangkan untuk pembangunan Islamic Cultural Centre oleh Raja Faisal Bin Abdul Aziz Al-Saud dari Saudi Arabia.

Bantuan lebih lanjut diberikan oleh penguasa Syekh Zayed bin Sultan Al Nahyan dari Abu Dhabi dan Presiden Uni Emirat Arab. Pada 1974, pekerjaan konstruksi dimulai. Pada Juli 1977, pekerjaan telah selesai dengan total biaya sebesar 6,5 juta pounds.

*penulis adalah mahasiswa pascasarjana Universitas Ankara, Turki. Ed; heri ruslan

 

Kemegahan Istana Topkapi, Bukti Sejarah Penaklukan Konstantinopel

Oleh: Deden Mauli Darajat
(Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki)

Tiba-tiba Dekan saya mengirim pesan pendek di jejaring social beberapa waktu lalu. Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Arief Subhan, itu mengatakan dalam pesannya bahwa salah satu rekan dari UIN Jakarta, yaitu Dr. Jajat Burhanudin Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta akan berangkat ke Istanbul, Turki, untuk mengikuti seminar internasional yang membahas tentang dunia keislaman.

Dengan persiapan yang seadanya saya langsung berangkat ke Istanbul. Yang diutus dari Indonesia ada dua orang yaitu Dr. Jajat Burhanuddin dan Dr Abdul Mukti, Direktur Eksekutif Centre for Dialogue and Cooperation among Civilitations (CDCC). Agenda di akhir acara pertemuan tokoh muslim di Istanbul adalah mengunjungi istana Topkapi, yaitu istana kesultanan Turki Usmani.

Istana Topkapi yang berdiri sejak lima ratusan tahun lalu masih kokoh berdiri di pusat kota Istanbul, Turki. Istana para sultan pada kesultanan Turki Usmani itu berada di titik strategis dengan dikelilingi tiga perairan yaitu, Selat Bosphorus, Tanjung Tanduk Emas (Golden Horn), dan Laut Marmara. Lokasi istana tersebut letaknya tidak jauh dari Masjid Sultan Ahmet atau yang biasa disebut Masjid Biru dan Musium Hagia Sofia atau Aya Sofia.

Adalah sultan Muhammad II atau sultan Muhammad Alfatih yang membangun Istana seluas 700 meter persegi pada tahun 1453 Masehi. Istana yang dikelilingi tembok pertahanan sepanjang 5 kilometer itu ditempati oleh 24 sultan yang memimpin kesultanan Turki Usmani.

Istana Topkapi merupakan tempat kediaman sultan-sultan Turki selama tiga abad hingga 1839 M. Setelah Sultan Mahmud II meninggal, penguasa yang menggantikannya lebih memilih tinggal dalam beberapa istana gaya Eropa, seperti Istana Dolmabahce dan Ciragan yang dibangun di tepi Sungai Bosphorus.

Ketika memasuki istana Topkapi, kami para pengunjung disuguhi taman yang luas dan indah. Taman itu juga dipenuhi oleh pepohonan yang sudah berumur ratusan tahun dan rimbun. Beberapa bangunan yang berada di dalam komplek istana Topkapi dihiasi dengan taman-taman yang indah menawan dan air mancur. Pintu dan jendela bangunan-bangunan di lingkungan istana itu menghadap ke halaman yang merupakan taman istana untuk menciptakan suasana yang terbuka dan menyediakan udara dingin selama musim panas.

Di kawasan istana tersebut terdapat asrama, taman, perpustakaan, sekolah, masjid dan pengadilan. Istana itu juga digunakan bukan hanya untuk tempat tinggal, namun juga digunakan untuk kantor administrasi dan kantor penerima tamu agung dari berbagai kerajaan. Istana itu juga dilengkapi dengan gedung yang diperuntukan untuk keluarga sultan. Para arsitek yang merancang bangunan itu harus memastikan bahwa di dalam istana, sultan dan keluarganya dapat menikmati privasi dan kebijaksanaan.

Istana ini sempat masuk dalam situs cagar budaya UNESCO PBB pada tahun 1985. Istana yang memiliki ribuan kamar dan ruang ini kini di bawah pengelolaan Departemen Budaya dan Pariwisata pemerintah Republika Turki dan dijaga oleh tentara militer Turki.

Saat ini, istana Topkapi dijadikan musium dan untuk memasukinya setiap pengunjung dikenakan biaya sebesar 20 Turki Lira (TL) atau setara dengan Rp. 140 ribu dengan kurs 1 TL sama dengan Rp. 7 ribu.

Peninggalan Sejarah Islam

Di dalam komplek istana Topkapi para pengunjung dapat melihat barang-barang peninggalan sejarah, khususnya sejarah Islam. Para pengunjung seperti dibawa ke zaman Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Sebab, sepanjang dan selama para pengunjung melihat barang-barang bersejarah itu mereka disuguhkan dengan lantunan tilawah Alquran. Konon, dulu lantunan ayat suci Alquran itu dilantunkan tanpa henti selama 24 jam nonstop dan terus menerus lebih dari 407 tahun sejak tahun 1517 hingga 1924.

Di istana tersebut, kita dapat melihat benda-benda yang terkait Rasulullah SAW yang juga dihiasi dengan kalighrafi yang sangat cantik. Juga ada cetakan tapak kakinya di batu yang patah dan disambung kawat. Ada pula dua pedang dan panah milik nabi akhir zaman tersebut. Terdapat pula wadah yang berisi jenggot Rasulullah. Selain itu, pedang para sahabat juga dipajang di museum tersebut, di antaranya pedang Abu Bakar Ashshiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid, dan Zubair bin Awwam.

Selain benda-benda itu, di istana tersebut juga terdapat pedang, mantel, gigi (Nabi Muhammad SAW yang tanggal pada Perang Uhud), bakiak, bendera, cambuk, segenggam janggut, sajadah, tongkat, busur panah, sabuk, stempel dan berbagai benda lainnya. Masih di lingkungan Istana, juga ada peninggalan berharga, benda-benda yang pernah dipakai Nabi Muhammad SAW. Berbagai peninggalan itu ditempatkan di dalam suatu ruang khusus yang terpisah dari Istana Topkapi. Ruangan itu bernama Paviliun Relikui Suci.

Hebatnya, di istana tersebut juga terdapat cetakan telapak kaki kanan Nabi Muhammad SAW. Telapak kaki kanan itu tercetak saat peristiwa Mi’raj. Sedangkan telapak kaki kirinya kini tersimpan di Masjidil Aqsa, Jerusalem. Terdapat pula beberapa surat buatan Nabi Muhammad SAW yang ditujukan kepada Muqawqis (pemimpin Kaum Kopts) dan Musaylimah Alkadzdzab (si Pembohong). Surat untuk Muqawqis ditulis di daun kurma dan ditemukan di Mesir pada tahun 1850.

Peninggalan bersejarah lainnya adalah manuskrip Alqur’an pertama yang ditulis di atas lembaran kulit binatang. Itu terjadi sebelum Alqur’an disatukan menjadi sebuah kitab utuh. Salah satu yang tersimpan di Topkapi ialah Surat Alqadar. Selain itu, masih banyak peninggalan lainnya dari para tokoh yang berjasa dalam perkembangan Islam.

*(Telah Dimuat di Republika, tanggal tak terdeteksi)

Menengok Makam Mustafa Kemal Ataturk

(Dimuat di Majalah JONG Indonesia No. 5 – Januari 2011 – Tahun II, Majalah PPI Belanda)
Oleh: Deden Mauli Darajat

Pendiri Republik Turki, Mustafa Kemal Ataturk sangat diistimewakan di negerinya. Ini nampak dari makamnya yang megah dan dijaga puluhan tentara dan petugas. Hampir semua wisatawan/wati yang mengunjungi Ankara menyempatkan diri melihat makam Ataturk karena mereka dapat mengunjungi museum dan taman asri yang luas di sekitar makam itu.

Saat berkunjung ke Turki Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga menyempatkan diri berziarah ke makam Ataturk dan memberikan karangan bunga di depan makamnya. Pun, para menteri kabinet Indonesia bersatu II seperti Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menpora Andi Alfian Mallarangeng, Menlu Marty Natalegawa dan menteri-menteri lainnya serta para juru bicara presiden ikut mengunjungi makam tersebut.

Entah sudah berapa kali saya mengunjungi makam itu mendampingi tamu-tamu dari Indonesia termasuk para menteri dan juru bicara presiden. Terakhir kali saya mendampingi M. Alfan Alfian, mahasiswa S3 UGM Yogyakarta, yang sedang melakukan riset tentang “Militer dan Politik di Turki”. Saat kunjungan saya yang terakhir itu, foto Presiden SBY serta pesan dan kesan darinya dan ketua DPR RI Marzuki Ali masih terpajang di makam Ataturk.

“Anitkabir” sebutan untuk makam Ataturk yang terletak di ibukota Turki, Ankara. Anitkabir adalah makam pemimpin “Perang Kemerdekaan Turki”, pendiri dan presiden pertama Republik Turki. Anitkabir itu dirancang oleh arsitek Prof Emin Onat dan Asisten Prof Orhan Arda, yang telah menyisihkan 48 arsitek lainnya dari beberapa negara dalam sebuah kompetisi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Turki pada tahun 1941 untuk “makam monumental” Atatürk. Di Anitkabir ini juga tempat peristirahatan terakhir Ismet İnönü, Presiden kedua Republik Turki setelah ia meninggal pada tahun 1973. Makam Ismet İnönü berhadapan dengan makam Atatürk yang berada di lapangan upacara.

Pembangunan Anitkabir terjadi pada tahun 1940-1950. Periode ini merupakan tahun “Gerakan Arsitektur Kedua” di Turki. Gerakan ini terjadi karena pembangunan Anitkabir dilengkapi dengan monumen batu, ornamen dan arsitektur dari zaman Seljuk dan Kesultanan Usmani. Sebagai contoh adalah atap menara yang mengikuti gaya ornamen kerajaan Seljuk di Konya, Turki. Lokasi yang dipilih untuk Anıtkabir dikenal sebagai “Rasattepe”, yang pada saat kompetisi arsitektur untuk Anitkabir merupakan lokasi central di Ankara yang dapat dilihat dari semua penjuru kota.

Pembangunan Anıtkabir memakan waktu sembilan tahun dan berlangsung empat tahap. Pada tanggal 9 Oktober 1944 upacara peletakan batu pertama dimulai. Tahap pertama, yang terdiri dari penggalian persiapan dan pembangunan tembok penahan dari Jalan Lions, dimulai pada tanggal 9 Oktober 1944 dan selesai tahun 1945. Tahap kedua dimulai pada tanggal 29 September 1945, dan selesai pada tanggal 8 Agustus 1950. Tahap ketiga adalah pembangunan jalan menuju makam, jalan Singa, dan tanah seremonial. Tahap terakhir diselesaikan pada tanggal 1 September 1953.

Jarak antara bangunan pertama yang berada di dalam Anitkabir menuju makam adalah sekitar 262 meter (860 kaki) yang dihiasi dengan dua belas pasang singa. Sementara itu plaza upacara terletak di ujung jalan. Area ini panjangnya 129 meter (423 kaki) dan lebarnya 84 meter (276 kaki) yang dapat menampung 15.000 orang. Sebelum memasuki bangunan Anitkabir kita akan melewati taman yang asri dan luas. Taman yang mengelilingi monumen ini disebut “Taman Perdamaian” yang berisi sekitar 50.000 pohon hias dan 104 macam bunga – sumbangan dari sekitar 25 negara.

Mustafa Kemal Atatürk lahir di Selânik (sekarang Thessaloniki) pada tanggal 12 Maret 1881 dan meninggal di Istana Dolmabahçe, Istanbul, Turki, pada tanggal 10 November 1938 dalam usia 57 tahun. Hingga 1934 namanya adalah Ghazi Mustafa Kemal Pasha, seorang perwira militer dan negarawan Turki yang memimpin revolusi negara itu. Ia juga merupakan pendiri dan presiden pertama Republik Turki.

Mustafa Kemal membuktikan dirinya sebagai komandan militer yang sukses dan bertugas sebagai komandan divisi dalam Pertempuran Gallipoli. Setelah kekalahan Kekaisaran Usmani di tangan tentara Sekutu yang berencana memecah negara itu, Mustafa Kemal memimpin gerakan nasional Turki dalam apa yang kemudian menjadi Perang Kemerdekaan Turki. Kampanye militernya yang sukses menghasilkan kemerdekaan negara ini dan terbentuknya Republik Turki.

Sebagai presiden pertama negara ini, Mustafa Kemal memperkenalkan serangkaian pembaruan yang luas dan berusaha menciptakan sebuah negara modern yang sekuler dan demokratis. Walhasil, menurut Hukum Nama Keluarga, Majelis Agung Turki memberi gelar “Atatürk” yang berarti “Bapak Bangsa Turki” pada tanggal 24 November 1934 kepada Mustafa Kemal.

Berdirinya Negara Republik Turki dapat dilihat dari Anitkabir ini. Para pendiri republik paham akan sejarah yang mesti dipelajari oleh rakyatnya. Meski sampai saat ini kontoversi akan berdirinya republik Turki masih tampak dari berbagai kalangan di dunia Islam karena dianggap telah menghilangkan Kesultanan Turki Usmani. Bagi anda yang menyempatkan mampir ke Turki, tidak ada salahnya untuk menengok Anitkabir ini.

 

Mengenang Said Nursi

(Dimuat di Republika, Jumat (15/10/2010))
Oleh Deden Mauli Darajat*

Selama hidupnya Badiuzzaman Said Nursi – ulama terkemuka asal Turki mengajarkan ilmunya kepada murid-muridnya, hingga wafat pada 1960. Setengah abad kemudian, para murid dan pengikutnya mengadakan Simposium Internasional IX Badiuzzaman di Istanbul, Turki. Puluhan ribu orang dari seluruh pelosok dunia, termasuk Indonesia datang menghadiri acara tersebut.

Simposium yang mengusung tema ”Ilmu, Iman, dan Akhlak” itu diadakan di sebuah hotel mewah di kawasan Istanbul. Acara itu digelar untuk memperkenalkan pemikiran dan pola dakwah yang dilakukan oleh pemikir Islam asal Turki itu.

Ketua panitia simposium, Prof Faris Kaya, mengatakan, simposium itu dilaksanakan untuk memperkenalkan pemikiran dakwah Said Nursi kepada masyarakat internasional. Sebab, menurut Kaya, pemikiran dan gerakan dakwah Said Nursi sangat relevan untuk diterapkan saat ini dengan tujuan untuk tercapainya kedamaian di dunia ini atau dengan bahasa lainnya adalah rahmatan lil’alamin.

Kaya menambahkan, pihaknya menerima 245 makalah dari ilmuwan berbagai negara di dunia, 210 diantaranya adalah ilmuwan yang baru pertama kali mengirimkan makalahnya. “Dari 245 ilmuwan yang mengirimkan makalahnya hanya 105 ilmuwan yang diterima,” paparnya.

Beberapa negara yang mengikuti acara tersebut di antaranya, Indonesia, Maroko, Australia, Malaysia, Mesir, Filipina, Yaman, Yordania, Libanon, Aljazair, Chad, Sudan, Niger, Jerman, Italia, Bosnia-Herzegovina, Afrika Selatan, Bulgaria, Suriah, Inggris, Amerika Serikat dan Kanada. Dari Indonesia sebanyak tujuh ilmuwan telah mengirimkan makalahnya dan hanya dua yang diterima.

Kedua ilmuwan asal Indonesia yang menjadi pembicara pada simposium tersebut adalah Prof Andi Faisal Bakti dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Dr.Asror Yusuf dari STAIN Kediri, Jawa Timur. Andi Faisal dalam makalahnya, mengatakan, pola dakwah Said Nursi adalah dari perubahan diri sendiri kemudian mengajak lingkungannya untuk berubah ke arah yang lebih baik yang diridhai Allah SWT. ”Memberikan teladan kepada orang-orang adalah pola dakwah yang paling efektif, dan inilah yang dilakukan Said Nursi,” kata Andi.

Simposium Internasional Badiuzzaman pertama kali dilaksanakan pada 1991. Kini, acara itu digelar secara rutin setiap tiga tahun sekali. Pembukaan simposium IX digelar di Stadion Sinan Ardim, Istanbul, dihadiri lebih dari 250 tokoh Muslim dunia dari 40 negara, termasuk beberapa tokoh terkemuka Turki, semisal; Bulent Aricn, mantan ketua parlemen Turki yang kini wakil perdana menteri, serta Husein Celik, anggota parlemen dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP). Husein Celik mengatakan dalam sambutannya, sepanjang hidupnya Said Nursi merupakan tokoh yang menentang rasisme dan diskriminasi.

Said Nursi adalah ulama terkemuka dari Turki. Ia dikenal sebagai salah seorang pemikir Islam yang paling cemerlang di zaman modern. Secara konsisten, Said Nursi memperjuangkan gagasannya yang menjadikan Islam sebagai agama yang dinamis di dunia modern. Said Nursi juga dikenal sebagai seorang teolog bervisi kokoh yang berupaya menyatukan dunia Islam yang telah retak.

Selama hidupnya, Said Nursi telah melahirkan sejumlah karya penting, salah satunya adalah Risale-i Nuratau Risalah Nur, sebuah tafsir Alquran setebal lebih dari enam ribu halaman. Bagi rakyat Turki, ia tak hanya sekadar ulama dan pemikir agung.

Said Nursi juga merupakan pahlawan bagi umat Islam di negara yang dulunya sempat menjadi adidaya dunia lewat Kekhalifahan Turki Usmani. Selain sempat memimpin pasukan untuk melawan invasi Rusia, secara gencar Said Nursi juga melakukan perlawanan atas sistem sekuler yang dibangun Mustafa Kemal Ataturk.

Sang ulama dan pemikir agung ini terlahir pada era kemunduran Dinasti Turki Usmani. Ia adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama Mirza dan ibunya bernama Nuriye atau Nura. Keluarga itu tinggal bersama masyarakat Kurdistan. Said Nursi lahir pada tahun 1876 M./1293 H., di sebuah kampung bernama Nurs yang terletak di bagian tenggara Turki. Kata Nursi di akhir namanya dinisbahkan kepada kampung kelahirannya tersebut. Ia meninggal pada tanggal 23 Maret 1960.

penulis: Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara, Turki, ed; heri ruslan

Juga dapat diakses di: http://koran.republika.co.id/koran/52/121089/Mengenang_Said_Nursi